.

Russian Orthodox Mission Society of st. Serapion Kozheozersky

.
Русский
ru
Azərbaycan dili
az
Gjuha shqipe
sq
English
en
العربية
ar
հայերեն
hy
Afrikaans
af
Български език
bg
Cymraeg
cy
Magyar nyelv
hu
Việt ngữ
vi
Dansk
da
עִבְרִית
he
id
Español
es
Íslenska
is
Gaeilge
ga
italiano
it
Қазақша
kk
Gĩgĩkũyũ
ki
中文
zh
한국어, 조선말
ko
Κurdî
ku
Кыргыз тили
ky
Latviešu
lv
Lietuvių kalba
lt
Македонски
mk
Bahasa Melayu
ms
Malti
mt
Монгол хэл
mn
Deutsch
de
Nederlands
nl
Norsk
no
język polski
pl
Português
pt
Limba română
ro
Cebuano
ceb
Српски
sr
slovenčina
sk
kiswahili
sw
Tagalog
tl
Тоҷикӣ
tg
ภาษาไทย
th
Тыва дыл
tyv
Türkçe
tr
اردو
ur
Ўзбекча
uz
فارسی
fa
suomi
fi
Français
fr
हिन्दी
hi
Český jazyk
cs
Svenska
sv
eesti keel
et
日本語
ja

Реквизиты для пожертвований:

41001409981867

Episkop Nikholas. Piramida Firdaus

Prawacana

 
Pada zaman yang amat kuno, raja-raja Mesir, para firaun membangun piramida dari bebatuan. Beberapa piramida tingginya mencapai 50-100 meter, beberapa bahkan melebihi 100 meter. Ada pula yang yang tingginya lebih dari dua kali tinggi Hagia Sofia, gereja yang paling terkenal dalam kekristenan Orthodox timur. Mengapa para firaun itu membangun piramida-piramida itu, masih merupakan misteri, layaknya semua praktik di dalam kerjaan Mesir kuno yang pagan. Di sana segala sesuatu begitu simbolis dan adikodrati. Namun alasan yang paling memungkinkan adalah keinginan firaun untuk menjadi kekal. Mereka menerawang ke dalam kekekalan jiwa dan tubuh mereka. Kesombongan, pula persaingan adalah penggerak pesat dari pembangunan bangunan-bangunan ini. Mereka ingin menjaga kekekalan diri dengan monumen yang akan dapat menerjang waktu dan bertahan sekuat bumi. “Kitab kematian” bangsa Mesir berisikan tentang penghakiman dari Oziris, dan kekalan manusia diungkap dalam ratusan rupa, diselubungi oleh terawangan ganjil dan tebakan secara liar.

Praduga Mesir kuno akan kekekalan manusia dinyatakan sebagai kenyataan dalam kekristenan. Perbedaannya adalah dalam artian Kristiani, kekekalan dipahami tanpa kebingungan, terlepas dari impian pagan yang ganjil, terawangan fantastis dan tebakan acak. Perenungan akan kekekalan di dalam iman Kristiani berkaitan dengan keberadaan Satu Allah yang Hidup dan pengorbanan Kristus sang Penyelamat dan kebangkitannya atas kematian.

Dan kekristenan menggerakkan orang-orang untuk membangun “piramida-piramida” rohani. Seruan itu juga menggerakkan bukan hanya para raja-raja dan para pembesar di dunia, namun semua manusia yang percaya di dalam Kristus dan mengikuti-Nya. Sebab semua orang Kristen disebut para raja menurut firman dari Sang Tuan: dan mendirikan kerajaan-Nya, imam bagi Tuhan dan Bapa mereka (Wahyu 1:6). Oleh sebab itu, setiap orang Kristen memiliki kehormatan dan tugas untuk membangun piramida itu untuk masing-masing umat. Sesungguhnya, mestinya ada begitu banyak “piramida (iman akan kebangkitan)” macam ini sebanyak jumlah orang Kristen di muka bumi ini. Piramida Kristen ini lebih tinggi daripada piramida-piramida firaun. Piramida-piramida itu tidak dapat diukur dengan meteran biasa. Mereka naik menjulang ke langit mengatasi Matahari, Bulan dan semesta raya. Mereka menembus sorga dan hanya di sana orang dapat melihat betapa besar dan tingginya. Mereka itu tidak takluk dengan waktu, hujan badai, topan, badai salju, bom, atau tenaga penghancur lainnya. Seluruh jagad menjadi tanpa daya dihadapan piramida-piramida ini.

Mereka tangguh menghempaskan kuasa perusak kematian. Kekekalan diberikan kepada mereka di tengah dunia dimana kematian tidak lagi disebut-sebut dan sengat maut tiada lagi dirasa. Piramida ini dibangun dengan dasar rohani, yang ditata oleh Roh, dihiasi oleh Roh dan diperkokoh oleh Roh, serta dimaksudkan bagi kerajaan sorgawi. Tuhan Yesus Kristus sendiri menyatakan kebutuhan dan rancangan dari piramida itu. Para pembangunnya adalah orang-orang yng telah dikrisma dan mereka membangun dengan kuasa dari Roh Allah. Masing-masing dari piramida ini memiliki sembilan lantai utama dan lantai yang kesepuluh adalah menara sukacita yang Allah mahkotai dengan karya-Nya. Setiap lantai memiliki beberapa lantai spesial dengan banyak sekat. Semua lantai yang lebih tinggi ditopang oleh lantai di bawahnya, sebagaimana wajarnya sebuah bangunan di bumi. Dan mereka semua menggambarkan sebuah bangunan agung yang takkan jemu mata memandangnya. Sebagaimana diketahui, para firaun membangun piramida-piramida itu di atas pasir dan mereka menyeret batu dari tempat yang amat jauh.

Piramida Kristiani, yakni piramida firdaus berdiri di atas dasar yang paling kokoh, di atas batu yang paling keras, dan batu itu adalah Kristus, sebagaimana disiarkan oleh para rasul agung Kristus: Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh. (Efesus 2:19-22)
 

LANTAI SATU

 
Pada hamparan pantai danau Genesaret, Sang Pencipta duduk di atas rumput nan hijau dan mulai menyatakan rancangan bagi suatu bangunan yang baru. Dia tidak menunjukkan rencana itu di atas selembar kertas ataupun menuliskannya dengan pensil. Namun Dia mengumandangkan firman mulia yang Dia batikkan di atas jiwa-jiwa para Murid-Nya dan atas bangsa-bangsa. Firman-Nya yang pertama-tama menyatakan tata cara bangaimana bangunan piramida itu mulai dibangun dari lantai pertama.

Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Demikianlah yang Dia ucapkan mengenai bangunan dan bagaimana membangun lantai pertama, lantai yang paling luas dan paling kuat yang harus menyokong keseluruhan bangunan. Namun, cukuplah itu bagimu wahai umat Kristiani. Jika engkau benar-benar menginginkan pembangunan piramida firdaus itu, maka engkau akan berolah sukacita dalam Sorga kekal. Engkau mengetahui bahwa semakin dalam fondasi, semakin kokohlah bangunan itu. Kemiskinan manusiawi kita sangatlah dalam, begitu dalam dan tersembunyinya sehingga banyak orang yang tidak sanggup mencapai relungnya. Namun, beruntung bagi mereka yang dapat menyentuh bagian terdalamnya. Kemiskinan manusia bukanlah laksana hadiah yang engkau terima, namun keadaan nyata yang engkau sadari dengan sendirinya. Dan engkau dapat memahami kemiskinanmu dengan memeriksa diri tanpa kepura-puraan. Orang yang sudi melakukan hal ini akan mengerti tiga kemiskinan ini: 1) kemiskinan pengetahuan, 2) kemiskinan kebaikan 3) kemiskinan perbuatan. Kemiskinan adalah lebih dari sekedar kekurangan. Kemiskinan yang sedemikian besarnya, yang sebenarnya ketiadaan, hanya dapat dirasakan oleh seseorang yang peka akan nurani atau moral atau daya perilakunya. Dia akan bersedia belajar sesuatu tantang makna hidupnya, tentang siapakah dirinya dan darimana dia berasal, tentang apa yang semestinya Dia lakukan di dalam sulaman rumit kehidupan ini. Namun dia menyadari hal ini –bahkan jika dia adalah orang terpelajar –yaitu sekalipun ilmunya, jika dibandingkan dengan kebodohannya, adalah seperti cangkang yang diisi air dibandingkan dengan air lautan. Ketika dia ingin menyanjung dirinya di atas semua orang dalam hal kebaikan. Namun dia melihat bahwa di dalam setiap langkah yang dia ambil, dia jatuh ke dalam lumpur kejahatan dan kecemaran. Ketika dia ingin melakukan hanya yang terbaik dan perbuatan terbesar sepanjang waktu, namun dia menyadari kelemahannya, ketiada-dayanya. Orang-orang tidak dapat menolongnya sebab merekapun juga fakir seperti dirinya, sebagaimana seorang pujangga mengungkapkannya:

“ segala akal mereka dikumpulkan
Tiada arti apa-apa bagiku
Namun haus aku mengitari kegelapan
Bahkan yang secercah ditebas kegelapan..”

Segeralah manusia berseru kepada Pencipta, dia tersungkur di hadapan-Nya, menaruh dirinya di dalam tangan Allah dan menyerukan pertolongan. Pengetahuna dan perasaan akan ketidakberdayaan yang amat dalam inilah yang disebut miskin di hadapan Allah. Dan kemiskinan ini bertentangan dengan rasa sombong dan serba bisa. Namun bahkan kecongkakkanpun sesungguhnya adalah ketiada-dayaan yang jauh lebih dalam. Menyadari dan merasakan ketak-berdayaan diri adalah lebih miskin daripada kecemaran, sebab kecongkakan bukan hanya sekedar kebodohan, namun kebebalan pula. Kesombongan adalah induk dari semua kebodohan dan kejahatan manusia. Mengenali diri berarti menyadari ketiada-dayaan dan kekosongan diri. Maka, sang pertobatan di dalam hati seperti ini akan hadir dan pada akhirnya akan berseru kepada Allah memohon pertolongan dan belas kasih.

Pertobatan atau kerendahan hati, yang muncul dari pengetahuan yang benar akan ketiada-dayaan diri adalah fondasi dari semua kebajikan, itu adalah dasar dari kehidupan rohani bagi semua umat Kristen, serta fondasi dari piramida firdaus. Yohanes Kolov (Rusia) berkata “Kerendahan hati adalah pintu kepada Allah.” Suatu kali, roh jahat berdebat dengan St. Makarius dan akhirnya berteriak: “Aku bisa melakukan apapun yang kamu lakukan namun hanya kamu yang bisa mengalahkan aku dengan kerendahan hati!” Seseorang memberiku tahu bahwa kerendahan hati “tidak memiliki lidah yang berbicara buruk tentang orang lain, tidak memiliki mata yang melihat kejahatan orang lain, tidak memiliki telinga untuk mendangarkan kesalahan orang lain.”

Orang yang menyadari bahwa dirinya tidak dapat berbuat apa-apa tanpa pertolongan Allah, membangun lantai pertama dari piramida firdaus dengan sangat baik. Di luar Aku, kamu tidak bisa melakukan apa-apa,firman Tuhan.

Di dalam setiap langkah dari pagi hingga malam hari, seorang yang bernalar menyadari kebenaran firman ini. Dan hanya pengetahuan inilah yang membuat dia berkenan di mata Allah.

Ketika seseorang terbebas dari terpaaan angin kecemaran, maka aka nada keheningan di dalam jiwanya sehingga Roh Allah masuk. Dan ketika Roh Allah masuk kedalam jiwa, maka Dialah yang membangun piramida firdaus itu menurut budi-Nya dan kehendak-Nya, melalui orang itu. Wahai saudara seiman Kristiani, sangatlah penting untuk menepis di dalam dirimu apapun yang berasal dari kehendakmu sendiri dan bukan dari Allah, baik itu berupa pengetahuan atau perasaan atau bahkan angan dan harapan. Bernard Clairvaux mengungkapkan: “ Seseorang yang mencapai pengetahuan diri yang sejati, menepis pandangan matanya sendiri..”

Janganlah mneyanggah, wahai orang yang cemar dengan berkata, mengapa engkau harus meremehkan diri dan merendahkan diri? Tidak ada yang memintamu untuk mempermalukan diri sendiri, engkau hanya sekedar menerima keadaanmu yang memalukan. Tidak ada yang memintamu untuk menganggap diri bukan siapa-siapa, melainkan menerima ketak-berdayaanmu yang tanpa diragukan lagi memang nyata. Ketika engkau menyadari siapa dirimu sebenarnya dan mengakuinya, maka barulah engkau dapat meletakkan batu penjuru bagi bangunan rohanimu. Kemudian engkau akan dapat membangun dengan sempurna lantai satu dari piramida firdausmu yang akan kokoh laksana dibangun dari baja: kuat sebagaimana maja dan legam seperti baja.
 

LANTAI DUA

 
Setelah membangun lantai satu dengan sangat baik, seorang Kristen bergegas membangun lantai yang kedua. Lantai satu tidak terlalu terlihat menarik dalam hal keelokkannya, namun dibutuhkan kekokohannya dan berguna bagi bangunan yang tinggi sebagaimana baja tidak begitu elok namun kokok dan berguna. Memang perannya lebih banyak di dalam tanah ketimbang di atasnya. Sifatnya lebih tak tampak daripada kasat mata, sebagaimana layaknya fondasi. Kerendahan hati bukanlah kebajikan yang berkilau-kilauan dan berpendar merebak. Lantai satu dibangun dari pemikiran-pemikiran akan ketiada-berdayaan diri dan perenungan akan ketak-berartian serta ketiada-dayaan diri.

Lantai dua di bangun dengan air mata.

Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.

Air mata –sungguh zat yang unik! Begitu lebut, namun ampuh. Ia berkilau laksana permata. Dan sesungguhnya, lantai dua ini terbuat dari air mata, napak laksana lantai yang terbuat dari batu permata.

Orang fasik tidak memiliki air mata. Dia membanggakan ketidak-mampuannya untuk mencurahkan air mata atau karena tidak pernah menangis. Ia tak memahaminya: baginya itu adalah kelemahan dan bukan kekuatan. Matanya memancarkan api kering yang membuat hati manusia kering. Kecemaran muncul dari tanah yang dangkal di atas batu. Sebaliknya, kelembapan muncul di bagian lapisan yang lebih dalam. Pertobatan kepada Allah menyerupai kedalaman tanah yang menyimpan kelembapan. Seorang petobat, yang rendah di dalam hati, menangis. Jiwanya dilumuri dengan air mata, matanya menyaksikan hal itu. Salah satu pengajar Orthodox membicarakan dua jenis baptisan: satu di dalam air, satunya di dalam air mata. Pengajar yang lain menyatakan: menangislah siang dan malam dan jangan puas-puas dalam menangis!

Engkau juga mungkin berpikir: air mata adalah tanda dari kelemahan! Janganlah berpikir demikian. Umat Kristiani yang menangis kebanyakan menghadapi eksekusi kemartiran dengan bernyanyi.

“Air mata adalah minyak urapan di mata”, Antonius Agung berkata. Wanita yang sangat berdosa: Maria dari Mesir, Taisa dan Pelagia membasuh jiwa-jiwa mereka dengan air mata dan disucikan. Itu juga berlaku bagi ribuan yang lain.

Engkau dapat pula berlaku demikian, umat Kristiani. Engkau mungkin akan menyesali banyaknya bahakan tawamu dalam hidup, namun bukan airmata yang engkau linangkan. Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.. kata-kata ini diucapkan oleh bibir yang maha kudus ( Lukas 6:25). Tidak pernah rela si jahat menaburkan benih airmata pertobatan, namun banyak kejahatan yang menjalar dari benih bahakan tawa. Namun tidak semua tangisan adalah tangisan yang menurut Injil. Air mata yang diperlukan untuk membangun piramida ini bukan berasal dari kemarahan ataupun duka atas kehilangan atau keinginan yang tidak tercapai.

Air mata berdasar Injil ialah yang mengalir dari hati sang petobat yang rendah hati. Air mata berdasar Injil adalah air mata karena duka kerinduan akan Firdaus. Air mata berdasar Injil adalah perpaduan antara tangisan kanak-kanak dan para martir. Air mata berdasar Injil adalah airmata yang membasuh kesalahan-kesalahan yang kita perbuat dengan kasih sorgawi.

Embun tercipta ketika udara yang dingin dan hangat bertemu. Sedemikianlah air mata mengalir secara alami dan mudah dari manusia yang menemukan kehangatan kasih Bapa sorgawi. Air mataku telah menjadi makananku siang dan malam, ini adalah pernyataan seorang raja yang bertobat yang mengaku dosa ketika hatinya yang dingin bertemu dengan kehangatan Surya batin (Mazmur 42:3 LXX)

Mereka yang tidak pernah meratap tidak pernah merasakan kenyamanan. Hanya bayi yang menangis yang dapat dihiburkan ketika dipeluk oleh ibunya.

Dunia ini sering disebut sebagai lembah duka dan itu memang benar. Dan Allah sendiri mencurahkan air mata ketika Dia berada di dalam dunia ini.

Umat manusia, engkau hanya dapat memilih antara duka dan duka, dan bukan antara duka dan suka. Engkau dapat saja menangis dengan putus asa dan tanpa harapan di hadapan nirwana yang buta dan tuli atau di hadapan Penghibur yang hidup. Jika engkau meratap di hadapan Penghibur yang hidup, maka engkau akan dihiburkan. Allah sendiri yang akan menjadi penghiburanmu dan di dalam keheningan jiwamu yang telah dihiburkan, dia akan terus membangun piramida firdausmu. 
 

LANTAI TIGA

 
Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.

Lantai tiga dari piramida firdaus dibangun di atas kelemah-lembutan. Lemah lembut adalah cucu dari kerendahan hati dan anak dari ratapan. Tokoh-tokoh terbaik di dalam masa persiapan –Samuel, Yohanes Pembaptis dan Perawan Maria –diperkenan oleh Allah setelah banyak linangan air mata di dalam doa. Kelemahlembutan sendiri adalah kebajikan yang diberikan oleh Allah setelah banyak doa ratapan. Itulah mengapa kelemah-lembutan tidak dapat dipisahkan dari kebajikan-kebajikan di atas, air mata yang jatuh dari hati. Kelemah-lembutan hanya dapat muncul sebagai yang ketiga, dan lantai tiga piramida ini hanya dapat dibangun di atas lantai satu dan dua. Setelah awan menurunkan hujan, ada keheningan; demikian juga, kelemah-lembutan hadir setelah ada ratapan pertobatan. Kelemahlembutan juga telah dikenal dalam Perjanjian lama. Misalnya, dikatakan bahwa Musa sangatlah lemah lembut, melebihi semua orang yang ada di muka bumi. (Bilangan 12:3). Kelemah-lembutan Yakub dan Raja Daud juga dinyatakan (ingatlah, ya Tuhan Daud dan kelemahlembutan hatinya). Kelemahlembutan juga dicakup di dalam material yang diperlukan untuk membangun jiwa manusia ketika Kristus menjelma. Sebab Aku lemah lembut, Anak Allah bersabda. Dan semua umat-Nya harus serupa dengan dia. Kelemahlembutan adalah kebajikan pertama yang orang-orang perhatikan. Lihatlah Anak domba Allah!, seru St. Yohanes sang Perintis jalan ketika dia menjumpai Sang Mesias di sungai Yordan. Orang-orang lain saling bersikut-sikutan untuk mendekati Yohanes, untuk mendengarkan dia dan menerima baptisan. Namun Yesus tidak menyikut siapapun, namun dengan lemah lembut berkitar sampai dia dapat menjumpai Yohanes.

Kelemahlembutan muncul diantara mereka yang tidak buru-buru untuk mendapatkan baris pertama. Dan itu muncul dari penyerahan totalh kepada kehendak Allah. Orang yang lemah lembut tahu bahwa Sang Khalik menaruh orang sebagamana Dia mau dan dia yang rendah hati siap melakukan kehendak Allah entah dia berada di barisan pertama ataupun di barisan yang terakhir. Itu bukanlah hal yang penting baginya mengenai posisi; yang terpenting baginya adalah agar kehendak Allah terjadi. Orang yang lemah lembut tahu bahwa mereka yang ada di barisan belakang, yang bertindak dengan kehendak Allah, akan memperoleh mahkota yang lebih mulia daripada mereka yang terburu-buru ke depan namun bertindak menurut kehendak sendiri. Lemah lembut dapat digambarkan sebagai berikut: tidak menyakiti siapapun dan dengan sabar menanggung setiap dan segala dera. Domba adalah contoh sempurna dari kelemahlembutan. Bayangkan Kristus di hadapan hakim yang sungguh brutal. Ketika mereka berteriak dan mengutuki, meludahi dan merobek-robek pakaian mereka sendiri, Dia berdiri dengan hening dan tak bergeming layaknya domba. Keheningan jiwanya adalah laksana keheningan sinar di atas badai laut yang berbuih. Betapa menakjubkan dan tak terkatakan keheningan yang rasul kumandangkan kepada jemaat dengan mengatakan: Aku, Paulus, aku memperingatkan kamu demi Kristus yang lemah lembut dan ramah. (2 Kor. 10:1). Dan para rasul juga serupa dalam ajaran mereka mengenai kelemahlembutan. Dia mengutus mereka seperti domba diantara para serigala, yakni lemah lembut di tengah-tengah orang fasik, yang sabar diantara yang pendendam. Laksana wanita yang menyusui yang berjerih bagi anak susuannya, mereka bersabar dan menderita. Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya. (1 Thessalonika 2:7). Beberapa peziarah mengagumi orang kudus yang tahan menghadapi beberapa gembala yang mengumpat di dekat pondoknya. Menghadapi hal itu, dia berkata: “Dengan begini saya belajar untuk bertahan menghadapi kejahatan dengan berkata kepada diri sendiri: jika aku tak dapat bertahan menghadapai kejahatan ini, bagaimana mungkin aku bertahan melawan kejahatan yang lebih besar ketika itu datang?”

Seorang tua dicopet oleh tetangga yang melayani dia. Kapan saja dia masuk ke rumah orang tua itu, dia pasti mencopet sesuatu. Orang tua itu mengetahuinya dan tidak berkata apa-apa. Ketika jam kematian datang, semua tetangganya berkumpul di sekitar tempat pembaringan orang tua itu. Sang orang tua meraih tangan hamba yang suka mencopet itu dan menciumnya seraya berkata: “Saya mesti berterima kasih kepada tangan-tangan ini telah menolong saya masuk ke Kerajaan Sorga hari ini.”

Wahai orang yang lemah lembut, engkaulah yang mewarisi bumi. Adakah engkau bertanya bagaimana? Sebagaimana para rasul telah mewarisinya. Nama siapakah gerangan yang begitu terpuji selain nama mereka? Adakah raja atau bangsawan yang kata-katanya ditaati lebih dari kata-kata para rasul di empat penjuru mata angin? Mereka yang tidak lemah lembut tidak akan mewarisi sejengkalpun bumi, tidak pula Sorga. Dan engkau wahai umat Kristiani, bangunlah lantai tigamu dengan kelemahlembutan. Lemah lembut itu seperti batu kecubung indah yang berharga yang warna-warni dengan pendaran warna yang lembut menawan. 
 

LANTAI EMPAT

 
Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.

Inilah maket dari lantai empat piramida firdaus. Di sini, material bangunannya adalah lapar dan haus akan kebenaran. Lapar dan haus selalu berlaku sebagai pemicu pembangunan di bumi. Namun di sini kita tidak sedang berbicara mengenai lapar dan haus jasmani yang dapat dipuaskan dengan makanan dan air minum. Seorang yang lemah lembut seperti domba akan berkata bahwa dia puas karena dia hening dan sabar. Sesungguhnya, lapar dan hausnya yang dalam akan kebenaran tersembunyi di dalam jiwanya seperti gunung berapi yang tidur.

Sangat mudah untuk menyuapi dia yang pongah, takni orang yang menghabiskan hari-harinya di bumi dengan menghancurkan diri sendiri. Dia makam dan minum setiap dan segala makanan jasmani. Dorong saja dia ke depan untuk memandu karavan manusia dan dia akan menjadi puas. Namun mereka yang membangun tiga lantai pertama piramida firdaus tidak akan bisa dipuaskan dengan yang jasmani dan fana semata. Dia memandang dunia dengan mata dari Allah, dia berpikir dengan akal budi dari Allah dan dia mengejar keadilan Allah. Disini, keadilan mencakup kebenaran dan hukum dalam cara Allah menyatakannya dan menatanya. Kebenaran akan Sang Khalik, kebenaran akan dunia, kebenaran akan manusia, kebenaran akan makna hidup dan kebenaran tentang jalan.

Keteraturan internal dan eksternal, ketertiban di dalam jiwa, ketertiban di dalam badan, di dalam masyarakat dan di dalam segala hal—ketertiban menurut kebenaran. Dengan kata lain, kebenaran berarti dua hal: pengetahuan akan kebenraran dan aturan perilaku. Semua yang orang perlu ketahui untuk menjangkau Allah dimaktub di dalam satu kata-kebenaran. Mereka yang lapar akan kebenaran bukanlah Farisi, sebab kaum farisi mengira mereka memegang kebenaran itu Pilatus tidaklah lapar akan kebenaran pula, meskipun dia bertanya kepada Kristus: apakah kebenaran? Orang yang lapar dan haus akan kebenaran adalah mereka semua yang terpaut kepada Kristus sedari awal dan tidak meninggalkan Dia sampai kematian-Nya. Mereka yang lapar akan Kristus zaman sekarang juga lapar akan kebenaran. Sebab Kristus adalah kepenuhan kebenaran, Dia juga berkata tentang diri-Nya: “Akulah kebenaran” dan “Akulah jalan.”

Mereka yang lapar dan haus akan Kristus sebagai kesempurnaan dari kebenaran itu akan dipuaskan. Dengan percaya teguh akan hal ini, banyak orang Kristen menepis rasa lapar dan haus duniawi dan hal-hal jasmani dan mereka mencari kepuasan at lapar dan haus akan hal rohani. Banyak dari mereka yang meninggalkan segalanya, mereka mundur ke dalam diri, mereka tinggal di gua-gua, mereka berdoa di padang pasir, mereka berdiri di atas tiang untuk memuaskan lapar rohani itu dan untuk memuaskan rasa lapar itu akan sorga dengan kebenaran sorgawi, yakni Kristus Tuhan. Mereka lapar akan sorga, dan dunia lapar akan mereka. Kaisar Konstantinus agung mengundang St. Antonius untuk pergi dari padang gurun untuk menjumpainya. Kaisar Theodosius mengundang Tetua Senufius dari Mesir ke Konstantopel untuk dapat melihat dan berbicara dengannya. Kaisar Leon jauh-jauh berziarah ke padang pasir hanya untuk dapat menjumpai St. Musa Murin. 

Karena itu, banyak raja-raja yang berkuasa, dengan rasa lapar rohani turun dari takhta dan mencari-cari untuk dapat menemui mereka yang merasa sungguh lapar dan haus dan yang dengan membara memuaskan diri mereka dengan makanan sorgawi dari kebenaran Allah. Meskipun mereka tahu bahwa hal ini sungguh berat, orang-orang ini lapar hingga mereka mati dan dunia menyaksikan mereka dipuaskan. Sungguh untuk memilih jenis lapar adalah keahlian. Diantara dua jenis rasa lapae, hamba-hamba Allah memilih rasa lapar sorgawi. Dengan lapar ini, mereka membangun lantai keempat piramida firdaus, kokoh dan megah laksana zamrud yang berharga. Lihatlah, lapar mereka hanya tunggal dan pasti dipuaskan. Namun lapar akan dunia yang penuh muslihat ini serta nafsunya yang liar tidak akan pernah dipuaskan baik di dunia saat ini ataupun kelak. Sebagaimana Sang Pencipta berkata melalui para nabi: “Sesungguhnya, hamba-hamba-Ku akan makan, tetapi kamu akan menderita kelaparan; sesungguhnya, hamba-hamba-Ku akan minum, tetapi kamu akan menderita kehausan; sesungguhnya, hamba-hamba-Ku akan bersukacita, tetapi kamu akan mendapat malu.” (Yesaya 65:13)

LANTAI LIMA

 
Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.

Dia yang lapar akan harta benda yang sangat berharga masakan menjadi rakus akan hal-hal yang lebih remeh? Dia yang lapar akan kebenaran Allah yang kekal, akankah dia menggenggam erat debu yang fana ditangannya? Dia yang mencari jubah rohani yang kekal, masakan menangisi gaun yang terbuat dari rumput jerami?

Bagi seseorang yang demikian ini, sedekah adalah hal yang alami. Dia laksana peziarah yang mempersiapkan diri untuk perjalanan yang panjang. Dia memberikan dengan Cuma-Cuma segala sesuatu yang dapat membebani perjalanannya. Memberikan barang-barang ialah bentuk pengorbanan yang paling sederhana. Namun bagaimanapun pengorbanan yang semacam ini sungguh diperlukan. Merawat jiwa manusia adalah pengorbanan yang lebih mulia. Adalah sebuah pengorbanan yang agung untuk menopang saudara-saudari di dalam kebenaran, untuk menunjukan kepada mereka jalan yang benar dan untuk berdoa bagi mereka.

Pengorbanan yang terbesar ialah untuk menyerahkan nyawa bagi sahabat. Kristus melakukan sedekah macam ini bagi umat manusia. Sedekah ini begitu besarnya sehingga kita tidak layak untuk menyebutnya lagi sebagai sedekah. Mereka menyebutnya dengan nama baru –kasih.

Sedekah dapat berpancar dari berbagai sumber, jernih atau keruh. Sumber mata air yang paling murni ialah belas kasih. Dan belas kasihan adalah pelukan hati. Ketika seseorang memeluk hati orang lain yang sangat membutuhkan dan menolongnya di dalam Allah yang Berbelas kasihan, maka sedekah itu datang dari sumber yang amat jernih dan sedekah itu mempunyai nilai agung di sorga yang berkilau-kilau.

Simaklah cerita yang amat indah mengenai dua orang yang disebut sebagai yang murah hati: St. Yohanes Sang Pemurah hati dan St. Filaret dari Moskow.

Seseorang yang menganggap hrta milik duniawi lebih bernilai daripada jiwanya tidak akan bisa menjadi murah hati. St. Gregorius Dialogos takut akan kehilangan kemiskinannya ketika dia diangkat menjadi Episkop Roma. Dia begitu takut kehilangan kemiskinannya seperti orang kaya yang takut kehilangan kekayaanya. Sebagaimana yang tertulis di dalam Kitab Suci: Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri (Amsal 11:17). Ketika engkau melakukan kebaikan kepada orang lain, engkau sesungguhnya melakukan kebaikan itu kepada dirimu sendiri. Sebab Allah melihat segala sesuatu dan memberikan hadiah atas segala sesuatu, dan Allah ialah kaya dan hadiahnya adalah agung. Bunda Sarah yang terhormat suka mengatakan mengenai belas kasihan dapat dilatih. “ Berikanlah sedekahmu meskipun engkau melaukannya demi menyenangkan orang lain, sebab jika engkau sudah terbiasa dengan memberikan sedekah, engkau akan terbiasa untuk member sedekah demi takut akan Allah.” St. Serafim dari Sarov menyarankan untuk berdoa bagi orang miskin jika engkau tidak memiliki sesuatupun yang dapat diberikan. Allah mengatakan kepada orang yang tak memiliki welas asih: Aku menghendaki belas kasihan dan bukan korban, yang berarti bahwa: Aku mengharapkan engkau agar berbelas kasihan satu sama lain lebih dari sekedar mempersembahkan korban kepada-Ku. Ini menunjukkan betapa Allah mengasihi umat manusia! Dia menganggap sedekah kita yang kita berikan kepada orang lain lebih besar daripada korban yang diberikan kepada-Nya. Dan, tanpa Allah, kita tidak akan bisa berbelas kasih kepada sesama. Pemikiran kita yang benar akan sesama sebagai saudara berkaitan erat dengan pemikiran kita yang benar akan Allah sebagai Bapa. Jadi, setiap lingkaran kebaikan kita kepada sesama ada Allah sebagai pusatnya.

Namun, perintah Allah mengenai kemurahan/belas kasihan ini sangatlah jelas kepada kita setegas kecaman-Nya kepada mereka yang tidak berbelas kasih sangatlah keras. Rasul Allah, Yakobus berkata: Sebab penghakiman yang tak berbelas kasihan akan berlaku atas orang yang tidak berbelas kasihan. Tetapi belas kasihan akan menang atas penghakiman. (Yakobus 2:13).

Dan mereka yang berbelas kasihan akan diampuni. Diampuni saat penghakiman Allah. Diampuni di dalam Kerajaan Kristus yang kekal. Diampuni dan dipeluk di dalam kekekalan bersama para malaikat dan orang-orang benar.

Demikianlah dengan sedekah engkau membangun lantai lima piramida firdaus. Setiap batu pada lantai ini mewakili sedekah yakni tindakan belas kasihan baik itu kepada jiwamu sendiri atau kepada orang lain, bahkan kepada binatang atau apapun yang Allah ciptakan. Dan keseluruhan lantai ini bersinar dengan kebiruan dari langit laksana dibangun dengan batu safir yang mulia. Inilah lantai lima dari piramida firdaus.
 

LANTAI ENAM

 
Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.

Kemurnian hati didasarkan kepada kemurahan dan belas kasihan. Sebagaimana lantai enam yang berdiri di atas lantai lima sebagai penopangnya. Orang yang egois dan pelit tidak akan merasakan kesukaan yang disebut kemurnian hati. Mereka tidak akan pernah bisa membangun lantai enam sebab mereka belum merampungkan pembangunan lantai lima. Abraham sangatlah murah hati.Kemurahan hari membantunya memurnikan hati, sementara kemurnian hatinya menolongnya melihat Allah.

Mengapakah kiranya kita tidak membicarakan mengenai kesucian jiwa, melainkan kesucian hati? Sebab hati adalah pusat dari jiwa. Akal budi berakar di dalam hati, keinginan ada di dalam hati, segala hasrat bersarang di sana. Sebab itu sebuah nasihat diberikan: Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. (Amsal 4:23)

Ketika kambium dari sebuah pohon sehat, engkau dapat memangkas ranting-rantingnya tanpa mengganggu pertumbuhannya. Namun ketika kambiumnya di makan ulat, tidak akan dapat ranting dan daunya bertahan. Dosa disebut sebagai ulat oleh St. Simeon Sang Teolog Baru. Ulat menyakiti pohon sebagaimana dosa melukai manusia. Dan tidak ada dosa yang begitu menghancurkan seperti dosa yang rahasia. Jika larva ulat itu dijemur pada sinar matahari, maka mereka akan mati; jika engkau menyatakan dosamu itu kepada orang yang sederhana sekalipun, dosa itu akan diampuni dan lenyap. Ulat dan dosa sangat ganas jika ditempat terlindung dan gelap. Ya, di dalam kegelapan.

Ketika Daud dengan sekuat tenaga mencoba untuk tidak melanggar hokum Allah, Dia berbicara kepada Allah dan mengetahui kehendak Allah dengan mudahnya. Segera setelah dia melanggar hokum Allah, Allah berhenti berbicara kepadanya dan mulai mengirimkan pesannya kepada para nabi lain.

Hati yang suci adalah ibarat cermin yang Allah sukai untuk memantulkan kemuliaan-Nya. Allah menuliskan nama-Nya yang agung dan menakutkan di sagala tempat di dalam misteri dari benda-benda alamiah. Namun Dia melakukannya dengan langsung dan tanpa misteri. Allah dinyatakan di dalam hati manusia yang suci. Betapa tinginya derajat manusia diangkat melebihi segala ciptaan! Betapa mulia dan terhormat bagi manusia dijadikan layak menerima Sang Tuan rumah sebagai Tamu di dalam kecemasan hatinya. Betapa sebuah kebahagiaan besar bagi manusia sehingga mereka ternganga dan tercengang saat menatap palungan Bethlehem dan melihat betapa Allah merendahkan diri-Nya. Manusia dapat mengagungkan dirinya atau merendahkan diri, namun Allah yang maha agung tak perlu lagi meluhurkan diri, Dia justru rela merendahkan diri. Allah tidak perlu meluhurkan diri mengtasi diri-Nya, sementara manusia diperkenankan untuk mengangkat derajatnya bahkan setinggi Allah. Seorang manusia direndahkan oleh kelemahannya, dan dia diangkat oleh kuasa Allah. Seseorang harus mempersiapkan hatinya dan memberihkannya dari debu dosa ringan dan lumpur dosa maut. Sisanya bergantung kepada kuasa dan kasih Allah.

Hati dibersihkan dengan iman, pengharapan dan kasih, ingatan akan kematian dan penghakiman Allah, kekaguman atas ciptaan Allah, merenungkan tata cara penyediaan Allah, kesabaran, kelemah-lembutan dan banyak alat yang lain. Namun bahkan ketika hati sudah dibersihkan dengan menggunakan alat-alat itu, akan tetap ada aroma tanah, dosa dan kematian sampai Roh Allah meniupkan udara atas hati itu laksana angin dari ketinggian dan ,ebuat hati wangi dengan ozon itu. Sebagaimana yang dikatakan oleh para bapa suci: hanya ketika ingatan akan dosa yang diperbuat sirna, maka barulah kita dapat berbicara mengenai kesucian hati.

Kesucian hati ialah bak Kristal yang dengannya engkau membangun lantai enam piramida firdaus. Cahaya sorgawi memancar melalui lantai ini dan menmbusnya tanpa rintangan. Tidak ada sedikitpun noda atau debu yang menghentikan sinarnya ke seluruh sudut dan titik pada lantai itu.

Wahai umat Kristiani, ketika engau memasuki Kerajaan Kristus, para malaikat tanpa cela Allah, para balita yang tertidur di dalam Tuhan dalam kehidupannya yang dini dan para perawan yang menjaga kesuciannya memimpin mereka melewati jembatan kematian ke Sorga akan bersukaria atas bangunanmu. Pada lantai enam, lantai kesucian, engkau akan menjumpai mereka dan bersama dengan engkau akan menikmati rupa Allah.
 

LANTAI TUJUH

 
Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

Kemurnian hati adalah dasar bagi kedamaian. Engkau membangun lantai atas dasar kemurnian ini, engkau membangun lantai tujuh dari piramida firdaus yang menjulang ke sorga. Hati yang penuh dengan pikiran yang salah, keinginan yang bodoh akan dunia yang fana dan hasrat keji tidak akan bisa memiliki damai. Sebab semua itu hanya akan menimbulkan kegelisahan dan memicu badai gelap di dalam hidup seseorang.

Air keruh di dalam kubangan yang paling jorokpun dapat dimurnikan pada ketinggian. Wahai manusia, naikkanlah hatimu ke ketinggian sorga dan sorga akan memurnikannya. Keheningan akan mengalir di dalam hatimu. Dan Allah akan Nampak di dalam keheningan itu.

Kedamaian adalah nikmat rohani sebagaimana kesucian hati ialah juga nikmat rohani. Dia yang memiliki damai di dalam hatinya, memiliki suka cita yang besar di dalam jiwanya. Dan tak satupun orang dapat mengambil nikmat itu daripadanya. Dia yang memiliki damai Kristus memiliki Kristus. Sebagaimana tertulis Karena Dialah damai sejahtera kita (Efesus 2:14). Dia yang berdiri di dekat Pangeran Kedamaian, pastilah memiliki damai, dan Kritus disebut Raja Damai (Yesaya 9:6). Dia yang melekat pada Pemberi damai di dalam badai dia memiliki damai dan tidak gentar. Damai aku tinggalkan bagimu, Dia berfirman (Yohanes 14:27). Dia yang berkata memiliki Kristus di dalam diri-Nya, sesungguhnya memiliki damai di dalam dirinya.

Demikianlah kita memiliki damai dengan Kristus. Kita tidak akan bisa damai sejahtera tanpa Kristus. Paulus berbicara banyak mengenai perdamaian dengan Allah. Namun perdamaian disini bukan berarti adanya perundingan antara kehendak kita dengan kehendak Allah. Perdamaian disini berarti kita dengan seutuhnya dan dengan sukacita menyerahkan kehendak kita kepada kehendak Allah. Paulus berbicara mengenai perdamaian kita dengan orang lain. Namun lagi-lagi itu juga bukan berarti adanya perundingan antara kehendak kita dengan kehendak sesama kita. Orang-orang telah berusaha membuat perdamaian satu sama lain tai toh nyatanya belum terwujud perdamaian itu. Apa yang Rasul Paulus maksudkan ialah terciptanya perdamaian melalui penerimaan bersama akan kehendak Allah.

Orang yang menghirup, dialah yang menghembus. Dia yang menghela damai dari Allah ke dalam dirinya, dialah yang menhembuskan damai itu dan menyebarkan kepada sekitarnya. Hal ini berlaku secara langsung tanpa ada upaya khusus, semudah orang bernapas. Membawa damai dimanapun berada berarti menerima dan memberikannya. Menerima damai itu dari Allah dan memberikannya kepada orang di sekitar dan bahkan kepada binatang yang sangar. Ya, bahkan kepada binatang buas: orang kudus Allah hidup ditengah-tengah binatang buas dalam kedamaian dan membelai mereka seperti membelai domba. Jadi, damai itu dibagikan bahkan kepada binatang yang liar dan alam disekitar kita. Sebab, alam kita diganggu oleh kegelisahan manusia yang berdosa. Manusia tidak mampu menerima kedamaian dari alam namun alam hanya memperoleh kedamaian dari manusia. Segera setelah manusia menerima damai itu, alampun juga menyerap kedamaian itu.

Pembawa damai akan disebut anak-anak Allah. Dia akan disebut sebagaimana Kristus dari kekal hingga kekal. Seorang pembawa damai melakukan apa yang Kristus perbuat. Dia mewartakan persaudaraan diantara umat manusia di dalam nama kasih Allah. Untuk mendatangkan damai diantara manusia, dia memperingatkan manusia untuk mengangkat dirinya ke tingkat pesaudaraan yang lebih tinggi. Hanya di dalam ketinggian persaudaraan itu maka damai yang sejati dan kekal dapat dihadirkan. Kedamaian formalitas tidaklah nyata, kedamaian dalam artian persaudaraanlah yang sejati. Kedamaian sorgawi dan sejati tidak dapat dinikmati dan diterima dengan menjadi warga Negara tertentu, namun di dalam persaudaraan tertentu. Sang pembawa damai tentu saja adalah pewarta persaudaraan yang agung dan erat di dalam keluarga Allah, pewarta Bapa sorgawi dan kekerabatan manusia di dalam-Nya. “Kalian semua bersaudara, sebab engkau memiliki satu Bapa di sorga.” Inilah seruan sang pembawa damai yang tak dapat digugat akan perdamaian dan manusia yang bernalar tidak akan menentangnya. Itu adalah alasan dan inspirasi paling agung bagi perdamaian manusia.Selain itu, sang pembawa damai senantiasa berdoa tanpa henti, sehingga senantiasa berseru kepada Allah: “ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat; ampunilah mereka, mereka adalah anak-anak-Mu dan Engkau adalah Bapa mereka!” Bapa mendengarkan anak-Nya, pembawa damai dan berterima kasih kepadanya, Dia memberikan kepada manusia, Roh Kudus-Nya yang memberikan anugerah kedamaian sorgawi kepada jiwa yang kepahitan. Dan kedamaian it adalah kesehatan.

Itulah cara membangun lantai tujuh piramida firdaus. Lantai ini terbangun dari emas murni. Dan lantai ini memendarkan cahaya kilau damai emas murni.

LANTAI DELAPAN

 
Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Orang yang membangun bangunan yang tinggi nan indah dari material duniawi dapat membangkitkan kecemburuan dari sesamanya. Dan dia yang membangun piramida firdaus yang tinggi membuat cemburu para setan. Iblis membenci mereka yang memperoleh kedamaian jiwani dan yang membawa damai diantara saudaranya.

Sebab si jahat bergirang atas perselisihan diantara manusia. Mereka ingin agar manusia hidup dalam kegelisahan terus menerus dan ketidak bahagiaan yang tak berpangkal, sehingga orang akan mulai menyalahkan Penciptanya. Dari mulanyanya, usaha para jahat ini adalah membuat hati manusia panas terhadap Allah. Mereka menyukai Kain yang membunuh saudaranya dan bukan Habel yang lemahlembut. Mereka menyukai Esau dan membenci Yakub, mereka menyukai Saul dan membenci Daud, mereka menyukai Kayafas dan membenci Gamaliel, mereka menyukai Saulus dan membenci Paulus. Makanya mereka tanpa lelah menggencarkan penganiayaan terhadap orang benar. Mereka melancarkan kejahatan secara langsung dan melalui orang-orang yang rusak jiwanya. Mereka menyatukan orang-orang yang cacat moral melawan pahlawan Allah dan Ksatria keadilan Kristus. Dan Allah melihat serta memperkenankan kelemahan orang-orang dan para roh jahat untuk menyerang hamba-Nya. Sang Maha tahu mengizinkan semua ini agar apa yang lemah dinyatakan sebagai yang lemah dan dipermalukan. Yang Maha Wicaksana mengizinkan ini semua agar dunia melihat bahwa keadilan dalam kecompang-campingan lebih berkuasa daripada ketidakadilan berselubung jubah kebesaran dan takhta. Sang Maha Murah mengizinkan hal ini agar hambanya dapat dirias dengan kemenangan agung dan mahkota yang berwibawa. Sebagaimana pencuri dan perampok yang menyerang orang-orang kaya duniawi, roh-roh jahat yang geram dan orang-orang sesat menyerango orang yang kaya secara rohani.

St Nilus mengatakan ini berdasarkan pengalamannya: “jika engkau berdoa secara tulus, bersiaplah menghadapi serangan si jahat.” Paulus Agung berkata kepada Timoteus bahwa dia menderita pengasingan dan kekejaman yang, katanya, menimpaku di Antiokhia, Ikonium dan Listra, Aku menderita dari begitu banyak dera dan Tuhan menyelamatkanku dari semua itu. Pada akhirnya dia menekankan hal ini sebagai prinsip: Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya (II Timothy 3:12-13). Allah sendiri telah pra tahu semua ini dan tidak menyembunyikannya dari para murid-Nya (Matius 10). Para Rasul dirajam batu di berbagai tempat. St. Athanasius dikejar-kejar oleh binatang buas yang dikerahkan oleh penganiaya yang keji. Melentius dari Anthiokia juga mendapat perlakuan serupa. St. Yohanes Krisostomos meninggal di tanah pengasingan sebagaimana St. Olimpia Yang Terberkati. Masih banyak lagi yang lainnya. St. Basilius Agung berkata kepada hakim yang mengancamnya akan mengasingkanya bahwa beliau akan bersukacita di tempat pengasingan sebab tidak ada yang dapat mengasingkannya dari Allah. Krisostomos yang wicaksana menjelaskan buah dari pengasingan: “sebagaimana tanaman tumbuh lebih cepat ketika disiram dengan tekun, iman kita bertumbuh pesat dan merambat ke segala arah saat dianiaya. (Homili Panegiria bagi St. Martir Yuventinus dan Maksiminus).

Semua anak-anak Allah rela menderita aniaya sebab Sang Anak Allah juga telah dianiaya. Mereka memahami itu ibarat riasan mereka. Dan mereka paham bahwa derita aniaya demi keadilan Allah adalah material yang sangat mantap unutk membangun piramida firdaus. Lantai delapan dari piramida firdaus ini berdiri teguh diatas ketujuh lantai yang dibangun sebelumnya. Dan lantai ini begitu mankjubkan dan memesona ibarat batu topaz ratna cempaka. Diatas lantai ini, ketika mereka berpindah ke Kerajaan Kristus, mereka akan berbicara dengan penuh sukacita dengan mereka yang menderita aniaya demi keadilan Allah sejak dunia dijadikan.
  

LANTAI SEMBILAN

 
Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.

Penganiayaan telah disebutkan dan sekarang tersebut lagi. Penganiayaan bagian sebelumnya adalah bagi keadilan dan kini adalah bagi Kristus.

Di sini yang dimaksudkan keadilan/kebenaran adalah keseluruhan system kebenaran Kristen dan tata perilaku, sementara Kristus menyatakan keadilan Allah yang menjelma. Kedua lantai ini terbuat dari material yang serupa –menderita bagi keadilan atau bagi Kristus. Karena Allah mengulanginya dua kali dan memujinya dua kali – ibarat dua materai yang mengesahkan semua kebajikan yang telah dibahas sebelumnya, maka kita mengerti bahwa menderita bagi-Nya adalah material yang sangat berharga untuk membangun istana rohani. Pada artian yang kedua, penderitaan yang lebih dalam dank eras dimaksudkan.

Celaan, aniaya, sumpah serapah, dusta dan fitnahan – dan semua itu ditanggung demi Krstus, mereka menyerang orang-orang benar sebagai cobaan yang paling mutakhir dan mengerikan. Batu yang paling keras haruslah ditempa pada tekanan yang sedemikian apalagi hati manusia yang berharga. Kain yang paling degil akan menjadi bersih di bawah siraman air yang begitu kerasnya apalagi hati manusia yang dimurnikan.

Di sini kita berbicara tentang kemartiran bagi Kristus. Dia yang secara sukarela menerima kemartiran, mengumpulkan material yang sangat berharga untuk membangun lantai Sembilan piramida firdaus. Mereka yang berhasil membangun dan menjaga kedelapan lantai istana rohaninya, tidak menginginkan apa-apa lagi kecuali untu mempersembahkan hidup mereka kepada Tuhan mereka. Keinginan kemartiran ini ibarat bara yang terus berkobar sejak zaman rasuli. Ketika Andreas Rasul disalibkan oleh orang-orang kafir, dia berseru dengan gegap gempita:”Duhai Salib yang menawan, betapa lama aku menginginkanmu dan menantikanmu!” Dan St. Anthonius, yang penuh dengan kebajikan, hanya memiliki satu keinginan pada hari tuanya –agar dianiaya dan dibunuh bagi Kristus. Karenanya, dia meninggalkan padang pasir dan pergi ke Aleksandria dimana dia mengecam para bidat hanya untuk akhirnya dibunuh oleh mereka. Namun Penyediaan Allah tidak bermaksud demikian dan Anthonius meninggal dengan damai di padang pasir.

Bayangkanlah perarakan dari para martir Kristus yang digiring ketempat pembantaian, dengan penuh sukacita dan nyanyian rohani seperti hendak pergi ke pesta pernikahan dan bukan kepada kematian. Dunia belum pernah menyaksikan pemnadangan super aneh seperti ini sebelumnya. Banyak diantara martir ini telah bertahun-tahun berusaha membangun piramida firdaus mereka. Mereka telah membangun delapan lantai yang lain kecuali lantai sembilan. Beberapa mereka mungkin baru membangun satu atau dua lantai, sedangkan yang lainnya lagi baru disebut Kristen satu hari atau bahkan satu jam –lantas mereka mati bagi Kristus. Oleh karena pengorbanan paripurna mereka bagi Kristus, Allah memberikan mereka hadiah dari lantai satu sampai yang terakhir. Sebab mereka seperti pekerja yang dipekerjakan oleh Sang Tuan di malam hari dan mereka menerima upah yang sama dengan mereka yang bekerja seharian penuh. Adrianus adalah seorang pejabat Romawi yang menyatakan diri sebagai orang Kristen setelah melihat penderitaan orang Kristen. “apakah engkau sudah gila, Adrianus?” tanya sang Kaisar kafir. “Tidak, Kaisar, Aku baru saja menjadi waras!” demikianlah timpal sang martir agung Kristus.

Zaman kita juga dipenuhi dengan kemartiran dan para martir kudus. Jutaan martir dari Rusia menyatakan kepada dunia bahwa zaman rasuli masih berlangsung dan bahwa masa panen Allah sangatlah raya sebagaimana disepanjang sejarah. Namun, penganiayaan atas orang-orang Kristen terus ada walaupun tidak ada penganiayaan yang besar-besaran. Tetangga kita dicela oleh suami kafir yang memukuli istrinya dan mengusir istrinya itu karena dia percaya kepada Kristus dan berdoa kepada-Nya. Apakah dia memerlukan seorang Kaisar Nero untuk menderita kemartirannya ketika ada juga si Nero masakini di rumahnya? Seorang pelajar pulang ke rumah menangis karena ketika dia menyatakan cinta akan Tuhan Yesus Kristus dan teman-temannya mengejeknya di sekolah. Beberapa tentar juga ditampar karena dia membuat tanda salib yang mulai di dalam barisan. Mereka semua adalah pembangun piramida firdaus dan mereka akan berada diantara bentara para orang kudus yang menderita celaan, ejekan, cambukan, fitnahan dan bahkan kematian. Lantai Sembilan dari piramida mereka dibangun dari batu rubi merah delima berkilauan denga cahaya sorgawi. Banyak mereka yang menderita bagi Kristus di atas bumi akan berjumpa satu sama lain di lantai ini.
  

MENARA SUKACITA

 
Piramida Firdaus diselesaikan dengan sempurna dengan lantai ini. Namun di atas lantai sembilan yang tampak seperti lantai sepuluh piramida ini. ANmun, lantai ini lebih menyerupai menara yang menerangi keseluruhan piramida yang berfondasi kerendahan hati dan dipuncaknya ada kemartiran. Bukan manusia yang membangun menara ini. Namun Sang Pencipta yang memasangnya disana karena Kasih-Nya.Karena menara ini memendarkan sukacita yang teramat dalam bahkan bagi mereka yang memandangnya, kita menyebutnya sevagai menara sukacita. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga. Sukacita, kegembiraan dan upah! Sukacita itu tak dapat sirna, tak dapat hilang! Kegembiraan yang bukan jasmaniah, yang justru menghasilkan kepahitan dan kekecewaan melainkanterhadap hal-hal rohani. Upahnya pun bukan seperti upah buruh, namun seperti untuk seorang anak; bukan dari Tuan yang aneh, melainkan dari seorang Bapa; bukan diberikan berdasarkan pekerjaan, namun atas dasar kasih.

Tampaknya menara sukacita ini turun dari sorga alih alih menjulang dari bumi. Tampaknya Allahlah yang mendekati orang-orang yang membangun menara itu. Dan Sang Pencipta menghiasi dan menerangi piramida firdaus dengan menara ini.

Menara sukacita memiliki pendaran sinar tak kasat mata. Laksana batu berlian yang amat besar. Pendaran sinarnya mengilaukan keseluruhan bangunan ini, dari lantai satu sampai paling atas; mereka merebak melalui semua lantai; meneranginya dan menghidupkannya sebagai satu kesatuan utuh.

Sepertinya sekali lagi perlu ditegaskan: janganlah kiranya seorangpun terkecoh dan mengira piramida firdaus ini sebagai bangunan fisik. Bangunan ini bukanlah bangunan jasmaniah melainkan rohani. Meskipun bukan kasat mata, namun ini adalah nyata, bahkan lebih nyata dibandingkan bangunan fisik belaka. Jika dilihat dari sorga, di luar tubuh, piramida firdaus tampak laksana manusia. Namun bukan sembarang manusia. Itu seperti Tuhan Yesus Kristus. If watched from heaven, out of bodies, the pyramid of paradise looks like a man. Sebab, tak ada seorangpun yang dapat masuk Kerajaan Kristus jika tidak serupa dengan Kristus. Tidak pula manusia dapat membangun bangunan yang berbeda dari cara yang Tuhan Yesus Kristus rencangkan atau nyatakan. Dan ketika kita terpisah dari tubuh duniawi kita, kita akan melihatnya dengan sangat jelas –bersama para malaikat-apa yang kita bangun di atas fondasi Yesus Kristus selama hidup kita.

Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu.Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. (1 Korintus, 3:12-14). Pujian dan kemuliaan bagi-Mu ya Allah kami selama-lamanya! Amin!

ruРусский
azАзербайджанский
sqАлбанский
enАнглийский
arАрабский
hyАрмянский
afАфрикаанс
bgБолгарский
cyВаллийский
huВенгерский
viВьетнамский
daДатский
heИврит
id
esИспанский
isИсландский
gaИрландский
itИтальянский
kkКазахский
kiКикуйю
zhКитайский
koКорейский
kuКурдский
kyКыргызский
lvЛатышский
ltЛитовский
mkМакедонский
msМалайский
mtМальтийский
mnМонгольский
deНемецкий
nlНидерландский
noНорвежский
plПольский
ptПортугальский
roРумынский
cebСебуано
srСербский
skСловацкий
swСуахили
tlТагальский язык
tgТаджикский
thТайский
tyvТувинский
trТурецкий
urУрду
uzУзбекский
faФарси
fiФинский
frФранцузский
hiХинди
csЧешский
svШведский
etЭстонский
jaЯпонский



© Russian Orthodox Mission Society of st. Serapion Kozheozersky
write us