.

Russian Orthodox Mission Society of st. Serapion Kozheozersky

.
Русский
ru
Azərbaycan dili
az
Gjuha shqipe
sq
English
en
العربية
ar
հայերեն
hy
Afrikaans
af
Български език
bg
Cymraeg
cy
Magyar nyelv
hu
Việt ngữ
vi
Ελληνικά
el
ქართული ენა
ka
Dansk
da
עִבְרִית
he
id
Español
es
Íslenska
is
Gaeilge
ga
italiano
it
Қазақша
kk
Gĩgĩkũyũ
ki
中文
zh
한국어, 조선말
ko
Κurdî
ku
Кыргыз тили
ky
Latviešu
lv
Lietuvių kalba
lt
Македонски
mk
Bahasa Melayu
ms
Malti
mt
Монгол хэл
mn
Deutsch
de
Nederlands
nl
Norsk
no
język polski
pl
Português
pt
Limba română
ro
Cebuano
ceb
Српски
sr
slovenčina
sk
kiswahili
sw
Tagalog
tl
Тоҷикӣ
tg
ภาษาไทย
th
Тыва дыл
tyv
Türkçe
tr
اردو
ur
Ўзбекча
uz
فارسی
fa
suomi
fi
Français
fr
हिन्दी
hi
Hrvatski jezik
hr
Český jazyk
cs
Svenska
sv
eesti keel
et
日本語
ja

Реквизиты для пожертвований:

41001409981867

Bagaimana jalan Orthodoxi berbeda dari jalan-jalan lain dan komunitas-komunitas yang disebut “gereja-gereja kristen”?

Oleh: Diakon George Maximov

Pembukaan

Tuhan Yesus Kristus berkata,”Aku akan mendirikan GerejaKu dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Mat 16:18). Semua mereka yang Bapa Surgawi peluk dalam lenganNya yang penuh kasih merupakan Gereja ini. Mereka menjadi satu komunitas yang dipersatukan secara rohani, suatu bangsa kudus yang baru.

Gereja adalah keluarga Allah yang diciptakan oleh firman dan darah Yesus Kristus, dibimbing oleh Allah Bapa dan diilhami oleh Sang Roh Kudus. Kepala Gereja adalah Yesus Kristus sendiri berjanji, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28:20).

Anggota-anggota Gereja adalah semua orang yang mengenal dan menerima kebenaran yang dibukakan oleh Kristus kepada rasul-rasulNya. Mereka percaya kepadaNya dengan tulus dan mendapati perlunya hidup oleh firmanNya, ambil bagian dalam pengudusan yang diterus-sampaikan oleh rasul-rasul dan mempunyai ketaatan kepada uskup-uskup, penerus-penerus rohani rasul-rasul.

Setiap orang boleh masuk ke dalam keluarga itu tanpa memandang jenis kelamin, umur dan kebangsaan. Gereja Kristus adalah satu, kudus, katolik dan apostolik. Sebagaimana satu tubuh memiliki bagian-bagian yang berbeda – lengan, kaki, dan lainnya- demikianlah Gereja Kristus memiliki gereja-gereja lokal. Mereka memelihara dalam wilayah mereka suksesi rasuliah, dan di samping itu, berbeda dalam bahasa, ibadah dan beberapa praktik tradisional.

Akan tetapi, dalam hal yang paling penting mereka merupakan suatu kesatuan yang penuh: Iman, hukum moral, doa dan sakramen-sakramen yang ditahbiskan oleh Kristus.

Sekarang terdapat gereja-gereja lokal sebagai berikut : Gereja Konstantinopel, Gereja Yerusalem, Gereja Alexandria, Gereja Antiokhia, Gereja Rusia, Gereja Siprus, Gereja Yunani, Gereja Serbia, Gereja Bulgaria, Gereja Romania, Gereja Ceko dan Slovakia, Gereja Amerika.

Oleh janjiNya bahwa alam maut tidak akan menguasainya.” (Mat 16:18). Tuhan memberitahu kita bahwa Gereja tidak pernah hilang dan tak seorangpun dapat menghancurkannya , dan juga bahwa ia tidak dapat terpisah dari iman ataupun salah mengenai kebenaran sebab Roh Kudus selalu berkarya melalui Bapa-Bapa Gereja dan guru-guru yang dengan setia melayani dan mencegahnya dari penyesatan apapun. Sebagaimana St. Philaret dari Moscow katakan, “Gereja adalah kudus walaupun ada orang-orang berdosa di dalamnya. Orang-orang berdosa yang tetap tidak membersihkan diri mereka sendiri dengan pertobatan yang sejati, tidak menghalangi Gereja dari keberadaanNya yang kudus sementara mengakui orang-orang berdosa dengan tindakan-tindakan yang kelihatan dari otoritas Gereja atau tindakan-tindakan yang tidak kelihatan dari penghakiman Allah, dianathema ( dipotong dari dosa , dipisahkan dari Gereja ) sebagai bagian tubuh yang mati. Dan demikianlah Gereja dijaga tetap kudus dalam hal ini.”

Diantara mereka yang dipotong dari Gereja adalah mereka yang ingin mengubah iman yang diterima dari rasul-rasul dan sebagai gantinya mereka mengajarkan iman lain dari cerita khayalan mereka sendiri. Tuhan Yesus Kristus telah menubuatkan tampilnya guru-guru palsu semacam itu. Oleh karena itu, semua orang yang bagi mereka kebenarannya sendiri lebih berharga daripada kebenaran ilahi itu terpisah dari Gereja dan dengan cara demikan terpisah dari Kristus, pada masa-masa yang berbeda dan menciptakan komunitas mereka sendiri yang mereka sebut “gereja-gereja”.

Untuk menunjukkan perbedaan antara “gereja-gereja” palsu yang diciptakan oleh orang-orang yang bermoral di dunia ini dan ajaran-ajaran yang salah tentang bagaimana seseorang seharusnya memuliakan Allah. Gereja sejati yang didirikan oleh Kristus mengenakan satu nama yang jelas : “Orthodox” yang berarti “memuliakan Allah dengan benar.”

Bagaimana Perpecahan ini terjadi ?

Gereja Orthodox menjaga utuh kebenaran yang telah dinyatakan oleh Tuhan Yesus Kristus kepada rasul-rasulNya. Tetapi Tuhan sendiri memperingatkan murid-muridnya bahwa dari lingkungan insani mereka akan ada orang-orang yang akan mencemarkan kebenaran dan menutupinya dengan cerita khayalan mereka sendiri. “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.” (Mat 7:15). Rasul-rasul juga memperingatkan tentang hal itu. Misalnya, Rasul Petrus menulis,”Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil ditengah-tengah umat Allah, demikian pula diantara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan menyangkal penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian mereka mendatangkan kebinasaan atas diri mereka. Banyak orang akan mengikuti cara hidup mereka yang dikuasai hawa nafsu, dan karena mereka jalan kebenaran akan dihujat ..... mereka adalah orang yang terkutuk. Oleh karena mereka telah meninggalkan jalan yang benar. Bagi mereka telah tersedia tempat-tempat dalam kegelapan yang paling dahsyat.” (2 Pet 2:1-2,15,17).

Bidat berarti kepalsuan yang orang ikuti secara sadar. Jalan yang dibukakan oleh Yesus Kristus memerlukan dedikasi dan upaya dari manusia untuk melihat apakah dia sungguh-sungguh mengambil jalan ini dengan niat yang teguh dan cinta akan kebenaran. Tidaklah cukup menyebut dirimu Kristen tetapi kamu harus membuktikannya dengan kata-kata, pikiran dan segenap kehidupan yang bahwa kamu adalah seorang Kristen. Dia yang mencintai kebenaran siap untuk menolak kebohongan apapun dalam pikirannya dan hidupnya sendiri supaya kebenaran masuk kedalamnya, membersihkan dan meneranginya.

Tidak setiap anggota memasuki jalan ini dengan niat yang murni. Sebagai akibatnya, kehidupannya di dalam Gereja menyatakan suasana hati buruk mereka yang merusak. Orang-orang yang mencintai diri mereka lebih daripada Allah itu terpisah dari Gereja.

Ada dosa yang dilakukan oleh perbuatan ketika seseorang yang melanggar hukum ilahi dengan perbuatan, tetapi ada dosa yang dilakukan dalam pikiran ketika seseorang lebih memilih kebohongannya daripada kebenaran Allah. Hal kedua disebut bidat. Dan pada masa-masa yang berbeda ditengah-tengah orang-orang yang menyebut diri mereka Kristen Orthodox terdapat orang- orang yang melakukan dosa baik dengan perbuatan ataupun pikiran. Mereka menolak Allah ataupun jika mereka tetap memilih dosa mereka tidak dapat tetap tinggal didalam Gereja dan terpisah darinya. Demikianlah di sepanjang sejarah, mereka yang memilih dosa telah meninggalkan Gereja.

Rasul Yohanes berbicara tentang mereka demikian, “Mereka memang berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita, sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi supaya menjadi nyata bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita.” (2 Yoh 2:19).

Bagian mereka itu sangat buruk, sebab Kitab Suci berkata bahwa mereka yang bergemar dalam “bidat-bidat ... tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” (Gal 5:20-21). Hal ini tepat karena seorang manusia adalah bebas. Dia selalu dapat membuat pilihan dan menggunakan kebebasannya untuk kebaikan dengan memilih jalan kepada Allah, atau untuk kejahatan dengan memillih dosa. Inilah alasannya mengapa tampil guru-guru palsu dan orang-orang yang mempercayai mereka lebih daripada Kristus dan GerejaNya.

Ketika bidat-bidat yang memperkenalkan kepalsuan muncul, Bapa-bapa kudus dari Gereja Orthodox mulai menjelaskan kepada mereka kesesatan mereka dan memanggil mereka untuk menolak ajaran khayalan ini dan berbalik kepada kebenaran. Beberapa dari mereka dapat diyakinkan oleh kata-kata mereka telah berubah, tetapi tidak sama sekali semuanya. Bagi orang-orang yang keras kepala dengan kepalsuan ini Gereja menyatakan penghukumannya, memberikan kesaksian bahwa mereka bukanlah pengikut sejati Kristus dan anggota dari komunitas semua yang didirikan oleh Dia. Demikianlah digenapilah nasehat Sang Rasul,”Seorang bidat yang sudah satu dua kali kau nasehati hendaklah engkau jauhi. Engkau tahu bahwa orang yang semacam itu benar-benar sesat dan dengan dosanya menghukum dirinya sendiri.” (Titus 3:10-11)

Telah ada banyak orang seperti ini dalam sejarah dan dibawah ini kita akan menerangkan hanya “gereja-gereja” yang paling tersebar dan paling besar didirikan oleh mereka. Yang telah bertahan sampai hari ini. Kita juga menerangkan apa yang membedakan jalan mereka dari jalan Gereja Orthodox.

Monofisitisme

Gereja Orthodox sejak zaman purba telah memelihara kebenaran bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah Allah sejati dan manusia sejati pada saat yang sama, yang artinya setelah inkarnasi Dia mempersatukan dua kodrat manusiawi dan Ilahi dan dilahirkan memiliki satu kodrat dengan Sang Bapa oleh keilahianNya dan dengan kita oleh kemanusiaannya supaya sementara dalam kesatuan yang terkacaukan dan tak terbagi setiap kodrat mempertahankan keberadaannya. Itulah mengapa Tuhan Yesus Kristus sendiri menyebut dirinya “Anak Allah” (Yoh 10:36) dan “Anak Manusia” (Mark 2:10). Sebagai anak manusia Dia berkata,”Bapa lebih besar daripada Aku.” (Yoh 14:28) dan sebagai anak Allah Dia mengatakan,”Aku dan Bapa adalah satu,” (Yoh 10:30). Sebagai Allah Dia menyembuhkan orang sakit (Mat 12:15) dan memerintahkan badai (Mark 4:39). Sebagai manusia Dia makan dan minum (Mat 11:19), menderita sengsara dan mati (Mark 15:25-37).

Tetapi pada abad kelima beberapa orang tampil mulai berpendapat bahwa Yesus Kristus mempunyai hanya satu kodrat. Kodrat ilahi yang dianggap secara penuh menelan kodrat manusiawi. Menurut mereka, sementara dalam inkarnasi kodrat manusiawi diterima oleh Allah Putera. Kodrat manusiawi kehilangan hakikat dan realita yang selayaknya dan dapat berbeda dari kodrat ilahi hanya dalam pemikiran. Kesesatan ini disebut “Monofisitisme” dan pengikutnya telah terpisahkan dari Gereja Orthodox mulai saling berpisah diantara mereka oleh aliran-aliran yang berbeda. Banyak bapa-bapa suci meyakinkan kaum monofisit untuk melepaskan pandangan sesat ini dan menyatakan kesalahan ajaran itu. Misalnya St. Nikitas Stithatos menulis bahwa orang-orang Kristen yang jujur tidak dapat mengakui satu kodrat saja dalam Yesus Kristus, sebagaimana dalam hal ini baik kodrat Ilahi saja dan kemudian Dia tidak menjadi manusia, tidak menyelamatkan dan membersihkan kodrat kita dari kecemaran, ataupun satu kodrat manusiawi saja dan kemudian dalam inkarnasi Dia berhenti menjadi Allah; Oh betapa bodohnya. Ataupun itu adalah suatu kodrat baru, suatu percampuran kodrat Ilahi dan manusiawi dan kemudian Dia tidak memiliki kodrat yang sama baik dengan Sang Bapa dan Sang Roh Kudus maupun dengan Perawan Maria dan manusia lainnya, dan “Demikianlah Dia tidak dikenal baik sebagai Allah ataupun manusia.” (Wacana Eksposal melawan Orang-orang Armenia, 5).

Tetapi sayangnya, mereka sama sekali tidak mau mendengar suara Gereja Orthodox dan banyak orang menganut Monofisitisme. Dan sejak awal banyak orang Mesir, Ethiopia, Syria telah melenceng kepada kesesatan ini. Orang-orang Armenia menunda selama beberapa abad berpindah ke Monofisitisme dan kembali darinya kepada Orthodoxi sampai pada akhirnya mereka terpisah pada abad ke-9. Orang-orang terakhir yang menganut Monofisitime adalah orang-orang kristen India pada abad ke-17 yang setelah menolak ketaatan kepada Paus Roma yang dipaksakan oleh penjajah Portugis memohon dukungan kepada Gereja Syria Oriental dan demikianlah mengambil dari mereka iman Monofisit (sebelum penindasan Katolik mereka mempunyai uskup-uskup dengan pandangan yang sangat berbeda-beda).

Saat ini kesesatan ini dipegang oleh gereja-gereja Oriental: Koptik, Armenia, Ethiopia, Syria dan gereja Malankara di India. Mereka tidak menyebut diri mereka monofisit tetapi dalam pengakuan iman mereka tetap menulis bahwa Kristus mempunyai satu kodrat dan menghormati orang-orang yang menciptakan kesesatan monofisit sebagai orang-orang kudus, sebagaimana juga mereka masih menolak Konsili Ekumenis keempat di Kalsedon yang menyerukan iman Kristen sejati tentang Kristus yang adalah Allah sejati dan manusia sejati, demikianlah Dia itu satu dan sempurna dalam kedua kodratnya.

Ajaran Katolik Roma

Pada abad ke-11 Gereja Lokal Roma terpisah dari Gereja Orthodox Ekumenis. Ia terpisah karena anggota-anggotanya tidak mau menolak kesesatan yang menyebar diantara mereka. Ada beberapa kesesatan yang membedakan Ajaran Katolik Roma dari Gereja Orthodox. Kesesatan yang paling penting diantaranya ada dua: kesesatan pertama adalah dalam ajaran tentang Gereja, kesesatan kedua adalah dalam ajaran tentang Allah.

Papisme

Berbicara tentang Kristus, Rasul Paulus berkata bahwa Allah Bapa ,”telah meletakkan segala sesuatu di bawah kakiNya, dan memberikan Dia kepada Gereja sebagai kepala dari segala sesuatu.” (Ef 1:22-23).

Oleh karena itu, Gereja Orthodox sejak zaman rasul-rasul telah menjaga tak berubah ajaran bahwa Kepala Gereja yang didirikan Kristus adalah Kristus sendiri.

Tetapi Katolik Roma mengajarkan bahwa kepala gereja adalah uskup utama Roma – Paus Roma, dan menyebut dia seorang wakil Kristus, yaitu pengganti resmi Kristus diatas bumi. Oleh karena itu menurut mereka dia harus memiliki otoritas langsung atas seluruh anggota Gereja. Bapa- bapa kudus berkata bahwa,”Pengejaran penuh kesombongan untuk dominasi uskup-uskup Roma atas Kepatriakhan Bizantium” (St. Ambrosius dari Optira – Tentang penghormatan yang tidak adil) klaim mereka atas superioritas dan pemerintahan menurut kehendaknya sendiri atas segenap Gereja Ekumenis,” (St. Yohanes dari Kronstadt, Tombak hidup,1) adalah kesesatan mereka yang utama.

Pada mulanya semua uskup, termasuk primat-primat gereja-gereja lokal menganggap diri mereka sebagai pelayan-pelayan, rekan-rekan sekerja rasul, memohon bantuan satu dengan yang lainnya sebagai saudara dari sebuah keluarga besar. Tetapi dengan berlalunya waktu sungguh disayangkan, paus Roma dikarenakan cinta kekuasaan ingin menjadi “bukan yang pertama diantara saudara-saudara tetapi atas budak-budak.” (St. Eliyah Miniyatiy, Batu sandungan,2).

Oleh karena itu, orang-orang yang mengikuti kesesatan paus-paus Roma dan menyebut diri mereka Katolik Roma, mulai percaya bahwa Tuhan Yesus Kristus telah memberikan otoritas mutlak kepada satu orang, paus Roma. Tetapi orang-orang Kristen Orthodox secara teguh memegang kebenaran asli bahwa Tuhan telah memberikan otoritas semacam itu tidak kepada satu orang tetapi segenap Gereja, disuarakan oleh konsili rasul-rasul atau pengikut mereka, uskup-uskup.

Inilah mengapa, berbicara tentang apa yang seharusnya dilakukan ketika menyelesaikan perselisihan diantara orang-orang Kristen. Dia sebagai otoritas tertinggi menunjuk bukan pada satu orang tetapi segenap Gereja. “Sampaikanlah soalnya kepada gereja, tetapi jika dia tidak mau mendengarkan gereja, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai”. (Mat 18:15-17). Itulah mengapa Tuhan Yesus berkata :” dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam namaKu disitulah Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Mat 18:19-20).”

Demikianlah Dia sendiri berjanji akan hadir dimana ada dua atau tiga orang berkumpul dalam namaNya, yaitu di Konsili. Artinya, kata-kata konsili adalah kata-kata Yesus Kristus dan dari Sang Roh...... kata-kata yang harus kita percayai dan taati tak terkecuali Paus Roma.” (St. Eliyah Miniyatiy). Itulah mengapa Tuhan mengatakan kepada rasul-rasul : “dan semua kamu adalah saudara.” Oleh karena itu, ketika timbul perselisihan di Gereja rasul-rasul berkumpul di Yerusalem untuk mengadakan konsili dan bersama-sama menyelesaikan masalah-masalah itu dalam persekutuan dengan Sang Roh Kudus, sebab mereka berkata pada mereka sendiri,”Adalah baik bagi Roh Kudus dan bagi kita.” (Kis 15:26). Dari kesesatan diatas tentang supremasi muncul kesesatan lainnya yang berhubungan dengan itu diantara umat Katolik. Dikemudian hari mereka mulai menyatakan bahwa paus Roma tidak dapat membuat kesalahan ketika dia merefleksikan tentang iman dan moralitas dan oleh karena itu dia adalah tanpa salah.

Tetapi orang Kristen Orthodox mengenal bahwa hanya Gerejalah “tiang dan dasar kebenaran.” (1 Tim 3:15), seorang individu selalu mungkin berdosa melawan iman dan memberikan suatu penghakiman yang salah. Oleh karena itu, ketika bidat-bidat muncul Gereja Orthodox dari zaman purba mulai menghakimi tentang iman tidak pernah didasarkan pada suara satu individu tetapi mengadakan Konsili Ekemunis mengikuti teladan rasul-rasul yang mengadakan konsili di Yerusalem.

Pada beberapa Konsili Ekumenis baik Paus ataupun perwakilannya tidak hadir dan hanya setelah konsili-konsili mereka secara taat mengakui perlunya mengikuti keputusan dari konsili-konsili ini. Dari sini kita dengan jelas melihat bahwa konsili sebagai perwakilan dari segenap gereja memiliki otoritas untuk meyelesaikan kasus gereja apapun tanpa Paus Roma dengan ilham Roh Kudus.

Walaupun diantara paus-paus Roma terdapat orang-orang kudus dan benar khususnya pada milenium pertama ketika Gereja Roma adalah bagian dari Gereja Orthodox, sejarah mengetahui banyak contoh ketika paus jatuh kedalam kesalahan, melakukan dosa dan bertentangan satu dengan yang lain. Demikianlah kehidupan sendiri membuktikan kesalahan dari kesesatan Katolik tentang ketanpa-salahan Paus dan supremasinya. Gereja kudus tidak mungkin dikepalai oleh seorang yang berdosa. Kepala Gereja adalah Allah – manusia Yesus Kristus yang tanpa dosa.

Pada abad-abad terakhir umat Katolik juga mempunyai konsep bahwa paus Roma tidak hanya memiliki suatu otoritas tertinggi rohani atas uskup-uskup agung, tetapi juga otoritas sekuler atas raja-raja walaupun kehidupan itu sendiri membuktikan lagi kesalahan ajaran itu ketika raja-raja Eropa menolak untuk mengakui otoritas ini dan negara Paus Roma dikecilkan menjadi sebuah negara kecil Vatikan.

Mereka coba untuk membenarkan kesesatan itu dengan mengatakan bahwa Tuhan Yesus Kristus sebagai ganti diriNya disangkakan telah menunjuk Rasul Petrus yang disangkakan menjadi uskup pertama Roma itu sebagai kepala Gereja, dan setelah kematiannya, otoritas ini bagaimanapun caranya dilimpahkan kepada uskup-uskup yang menjadi penerusnya di Roma.

Akan tetapi, pernyataan ini salah. Rasul-rasul Kristus menganggap Petrus sebagai sesama saudara yang setara dengan mereka tetapi tidak sebagai kepala tertinggi atas mereka. Ini terlihat misalnya, dari Sidang di Yerusalem dimana mereka memberikan kedudukan ketua kepada Yakobus dan bukan Petrus.(Kis 15:13).

Dan Rasul Petrus bukanlah seorang uskup Roma sebab uskup-uskup adalah penerus-penerus rasul-rasul, serta rasul-rasul tidak pernah menyebut diri mereka uskup. Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, menunjuk uskup-uskup atas komunitas-komunitas baru. Seperti diketahui bahwa Rasul Petrus menetapkan uskup pertama di Alexandria.

Pada akhirnya diketahui dengan pasti bahwa pada abad-abad awal orang-orang Kristen tidak menganggap uskup-uskup Roma sebagai kepala Gereja,”lebih tidak tanpa salah dalam masalah-masalah iman. Akan tetapi primat-primat semua gereja lokal itu sama diakui setara satu dengan yang lain dibawah satu-satunya Kepala Gereja yaitu Kristus.

Umat Katolik Roma mencoba membenarkan kesesatan mereka mengacu kepada kata-kata Kristus sendiri,”Engkau adalah Petrus dan diatas batu karang ini aku akan mendirikan gerejaKu.” (Mat 16:18). Akan tetapi, menurut St. Yohanes dari Kronstadt,”semua bapa-bapa suci pada abad pertama dan yang selanjutnya mengakui bahwa orang harus memahami Yesus Kristus sebagai batu utama. (1 Kor 10:4) (St. Yohanes dari Kronstadt, Paku hidup, 1).

Tuhan Yesus mengatakan hal itu kepada St.Petrus sebab ia mengaku suatu iman yang benar dalam Kristus sebagai Anak Allah dan mereka secara sama dihubungkan kepada semua pengemban iman yang benar.

Menurut bapa-bapa suci Gereja Orthodox, ajaran Katolik dengan ilusinya,”mengenakan kepada Paus sifat-sifat Kristus dan dengan demikian menolak Kristus. (St. Ignatius Brianchaninov, konsep bidat dan skisma). Setelah semua orang Katolik dengan mengakui Paus sebagai kepala gereja meninggikannya ditahta sebagai ganti Kristus dan mengilahikannya dan memindahkan Kristus ke latar belakang. Mereka menjadikan Paus wakil Kristus walaupun Kristus beserta kita,”bahkan sampai pada akhir zaman.” ......... dengan mengakui Paus sebagai kepala gereja mereka telah kehilangan Kepala Gereja dan tetap tanpa kepala ....... Ya Tuhan, terangilah, sadarkanlah, dan selamatkanlah mereka ! (St. Yohanes dari Konstadt, Paku hidup,1).

Filioque

Tuhan Yesus Kristus keyakinan bahwa Roh Kudus,” Roh kebenaran yang keluar dari Sang Bapa,” (Yoh 15:26). Oleh karena itu Gereja Orthodox sejak zaman awal dan sejauh ini telah mengajarkan bahwa Sang Roh Kudus keluar dari Sang Bapa.

Akan tetapi, Katolik Roma menciptakan yang bahwa Roh Kudus pada saat yang sama keluar dari Sang Bapa dan Sang Putera. Dan pada abad ke-11 dibawah tekanan kaisar-kaisar Jerman Gereja Katolik memperkenalkan panambahan ini kepada teks purba pengajaran iman Kristen. Walaupun sebelumnya Paus-paus Roma sendiri berjuang dengan pembelaan terhadap penambahan yang bertentangan dengan kata-kata Tuhan. Melalui masuknya ajaran baru ini kepada iman konsep tentang Allah menjadi melenceng.

Sesungguhnya menurut kebenaran, Allah Bapa adalah satu-satunya keberadaan pribadi ilahi sehingga baik Sang Putera dan Sang Roh Kudus berasal dari Sang Bapa. Sang Putera diperanakkan dan Roh Kudus keluar dariNya. Dan sebagaimana kita tidak dapat menyatakan bahwa Sang Putera diperanakkan dari Sang Bapa dan Sang Roh, demikianlah kita tidak dapat menyatakan bahwa Roh Kudus keluar dari Sang Bapa dan Sang Putera. Demikianlah, satu Allah dengan satu permulaan yang sama pribadi-pribadiNya, mengenai suatu harmoni yang sempurna yang dirusakkan oleh penambahan Katolik Roma yang pada kenyataannya menganggap bahwa Allah Tritunggal mempunyai dua pokok sebagai ganti satu pokok : satu untuk Sang Putera dan yang lain untuk Sang Roh dan demikianlah memperkenalkan ketidaksetaraan diantara pribadi Sang Putera dan Sang Roh.

Perbedaan-perbedaan yang lain

Di samping itu, ada perbedaan-perbedaan yang lain. Kristen Orthodox mengajarkan bahwa manusia yang secara alamiah berasal dari Adam, dilahirkan dalam dosa. Dan Theotokos sendiri, mewarisi kodrat yang sama yang dirusakkan oleh dosa, memerlukan keselamatan. Oleh karena itu,dia menyebut Allah Juruselamatnya (Luk 1:47). Katolik Roma, bertentangan dengan kebenaran ini, pada 1854 menciptakan dan menyetujui pengajaran bahwa Theotokos adalah dikandung tanpa noda yaitu : untuk beberapa alasan, akibat kejahatan Adam dan Hawa tidak sampai kepada dia. Menurut dogma Katolik, Bunda Allah dibebaskan dari kuasa dosa asal dan oleh karena itu tidak dapat berdosa.

Orang-orang Kristen Orthodox tidak setuju dengan ajaran yang melebih-lebihkan semacam itu karena perawan Maria sendiri tidak menyetujuinya, dengan cara menyebut Kristus Juruselamatnya dan Dia menyelamatkannya dari kuasa dosa. Dan Dia menyelamatkannya, lebih-lebih Kitab Kuci dengan jelas mengatakan bahwa,”semua orang telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah.” (Rom 3:23).

Gereja Orthodox sungguh-sungguh menghormati perawan Maria karena kekudusannya dan hidupnya yang murni, tetapi tidak karena dia disangkakan dibebaskan dari akibat-akibat umum kejatuhan manusia.

Suatu ide palsu biasanya berkaitan dengan ide-ide palsu lainnya. Oleh karena itu St. Ambrosius dari Optina mengatakan,”ajaran sesat bahwa Roh Kudus keluar juga dari Sang Putera hanya muncul di Barat saja . Ketika itu ...... melibatkan sedikit demi sedikit ajaran-ajaran baru yang bertentangan dengan perintah Juruselamat kita, yaitu : percik sebagai ganti selam dalam sakramen baptisan, menghilangkan hak umat awam untuk ambil bagian dari cawan perjamuan dan perjamuan kudus dengan roti tak beragi sebagai ganti roti beragi, dihilangkannya seruan kepada Sang Roh Kudus dari Liturgi. Ia juga memperkenalkan ajaran-ajaran baru yang melanggar tata ibadah rasuliah, yaitu tidak memberikan pengurapan langsung pada anak-anak yang dibaptis, penghapusan hak orang-orang menikah untuk jabatan keimaman dan seterusnya.” (Tentang penghormatan yang tidak benar oleh kaum papis dengan martabat khayalan gereja mereka).

Protestanisme

Jika suatu cabang tanggal dari pohon dan telah kehilangan hubungan dengan getah kambium, tak terelakkan ia pasti mati, daun-daunnya berguguran dan menjadi rapuh dan dengan mudah patah pada saat yang genting.

Hal yang sama kita dapat lihat dalam kehidupan semua komunitas-komunitas, yang telah terpisah dari Gereja Orthodox sebagaimana sebuah ranting yang patah tidak dapat menahan daun-daunan sendiri demikianlah mereka yang terpisah dari kesatuan gereja yang benar tidak mampu mempertahankan kesatuan internalnya.

Ini terjadi karena setelah meninggalkan keluarga Allah mereka kehilangan kaitan dengan kuasa Roh Kudus yang memberi hidup dan menyelamatkan itu. Pada saat yang sama, hawa nafsu mereka untuk menolak kebenaran dan untuk meninggikan diri mereka atas orang lain yang membawa mereka terpisah dari Gereja, terus berlaku terhadap mereka dan menyebabkan perpecahan-perpecahan baru.

Demikianlah pada abad ke-11 Gereja Lokal Roma terpisah dari Gereja Orthodox dan pada awal abad ke-16 sejumlah signifikan orang-orang terpisah dari Gereja Roma mengikuti Luther mantan imam Katolik dan orang-orang yang sepikir. Mereka membentuk komunitas-komunitas yang mereka mulai sebut “Gereja”. Pergerakan ini secara umum disebut Protestanisme dan perpisahan dari Katolik itu sendiri disebut reformasi.

Pada gilirannya orang-orang Protestan juga tidak mempertahankan kesatuan internalnya tetapi mulai terpecah menjadi sekte-sekte dan aliran keyakinan yang berbeda. Masing-masing meyakini bahwa ia adalah satu-satunya gereja sejati Yesus Kristus. Mereka telah terbagi-bagi sampai sejauh ini dan hari ini jumlah mereka telah mencapai beberapa ribu.

Masing-masing sekte mempunyai ajaran khususnya sendiri yang memerlukan banyak waktu untuk dijelaskan. Disini kita akan melanjutkan menjelaskan hanya kekhasan utama yang khusus bagi semua orang Protestan dan membedakannya dengan Gereja Orthodox.

Alasan utama orang Protestan muncul adalah protes terhadap ajaran dan praktek-praktek keagamaan Gereja Katolik Roma. St. Ignatius mencatat bahwa sungguh banyak kesesatan masuk ke dalam Gereja Roma. Luther akan melakukan dengan baik jikalau setelah menolak mereka dia memperbaiki mereka dengan ajaran gereja Kristus yang kudus. Tetapi dia mengganti ajaran-ajaran itu dengan kesesatannya sendiri. Dia mengikuti hampir sepenuhnya beberapa kesesatan penting Roma dan menguatkan beberapa diantara mereka (St. Ignatius Brianchaninov, Lutheranism). Orang-orang Protestan bangkit melawan kuasa jahat dan keilahian paus-paus, tetapi oleh karena mereka bertindak oleh ilham hasrat hawa nafsu mereka sendiri, berpaling kepada perilaku buruk dan tidak mengejar suatu tujuan langsung untuk meraih kebenaran kudus. Maka mereka tidak layak melihat kebenaran.” (St. Ignatius Brianchaninov, Konsep bidat dan skisma).

Mereka menolak ide palsu bahwa paus adalah kepala Gereja tetapi tetap mempertahankan kesesatan Katolik bahwa Roh Kudus keluar dari Sang Bapa dan Sang Putera. Walaupun mereka menolak ajaran palsu Katolik tentang paus Roma, mereka tidak menjadi lebih dekat kepada Orthodoxi sebab menurut St. Hilarion Troitsky,”Protestanisme adalah sebuah protes dalam dimensi yang sama. Ia tidak memulihkan kekristenan yang lama tetapi menggantikan satu kekristenan yang cemar dengan yang lain ... Kebenaran dan keselamatan telah diberikan kepada Gereja. Kekristenan Latin, telah terpisah dari Gereja, murtad dalam hal ini dan menentukan kebenaran yang telah diberikan kepada satu orang tertentu yaitu paus yang bertanggung jawab akan keselamatan setiap orang. Protestanisme hanya keberatan mengapa kebenaran diberikan kepada paus saja ? Dan ia menambahkan bahwa kebenaran dan keselamatan terbuka bagi setiap orang tanpa memandang Gereja. Setiap individu telah dijadikan seorang paus yang tanpa salah. Protestanisme dengan jumlah Pausnya yang tak terhingga telah menghancurkan ide Gereja, mengganti iman dengan logika individu dan keselamatan dalam gereja dengan keyakinan impian pada keselamatan melalui Kristus tanpa Gereja, dalam keterasingan yang egoistis. Bagian prinsip Protestanisme lebih menyerupai cinta diri dan kehendak sendiri daripada lainnya. Cinta diri dan kehendak diri ditemukan dalam perpecahan tanpa akhir orang-orang Protestan itu sendiri.” (St. Hilarion, Kekristenan atau Gereja).

Kitab Suci

Protestanisme menegakkan suatu prinsip “hanya Kitab Suci” yang berarti bahwa mereka mengakui otoritas Alkitab saja dan menolak Tradisi Suci Gereja. Dan dalam hal ini mereka bertentangan dengan diri sendiri sebab Kitab Suci sendiri menunjukkan perlunya untuk menghormati Tradisi Suci yang berasal dari rasul-rasul,”berdirilah teguh dan berpeganglah pada tradisi-tradisi yang kamu terima dari kami baik secara lisan maupun secara tertulis.” (2 Tes 2:15), tulis Rasul Paulus.

Ketika seseorang menulis sebuah teks dan menerus sampaikan kepada orang-orang yang lain dan kemudian menanyai mereka apakah mereka telah mengerti, maka hal ini menjadi nampak jelas bahwa seseorang memahaminya secara benar dan yang lain memahaminya secara salah. Diketahui bahwa banyak teks memiliki banyak penafsiran. Penafsiran-penafsiran itu bisa saja benar atau salah. Hal yang sama terjadi dengan teks Kitab Suci jika kita memisahkannya dari Tradisi Suci. Kenyataannya, orang-orang Protestan berpikir bahwa siapapun boleh memahami Kitab Suci seperti yang mereka inginkan. Tetapi pendekatan ini tidak akan menolong menemukan kebenaran.

Sebagaimana St. Nikholas dari Jepang menulis tentang hal ini,”Kadang-kadang orang-orang Protestan Jepang datang kepadaku memintaku menerangkan satu pesan dalam Kitab Suci.” Tetapi kalian punya guru-guru misionaris, tanyalah kepada mereka. Aku mengatakan pada mereka : “Dan apa jawab mereka ? “Kami telah bertanya kepada mereka, mereka berkata : Pahamilah seperti yang kalian inginkan. Tetapi kami ingin tahu pemikiran asli Allah dan bukan pendapat pribadi.” Kita tidak memiliki situasi seperti ini, segala sesuatu diterangi dan dapat dipercaya, jelas dan teguh, karena selain dari Kitab Suci kita menerima Tradisi Suci yang adalah suara yang hidup dan berkelanjutan dari Gereja kita dari zaman Kristus dn rasul-rasulNya sampai sekarang yang akan berkumandang sampai ujung bumi. Kitab Suci secara umum diteguhkan diatasNya.” (Buku harian, 15 Januari 1897).

Rasul Petrus memberi kesaksian bahwa “nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.” (2 Pet 1:20-21). Oleh karena itu, hanya bapa-bapa suci yang diilhami oleh Roh Kudus boleh membukakan kepada orang pengertian yang benar dari sabda Allah. Kitab Suci dan Tradisi Suci membentuk satu kesatuan yang tak terpisahkan dan demikianlah keduanya telah ada sejak mulanya. Tidak dalam tulisan tetapi secara lisan Tuhan menyatakan kepada rasul-rasul bagaimana memahami Kitab Suci Perjanjian Lama (Luk 14:29). Dan dalam cara yang sama mereka mengajar orang-orang Kristen Orthodox pertama. Orang Protestan dalam organisasi mereka ingin meniru komunitas rasuliah perdana, tetapi pada tahun-tahun pertama orang-orang Kristen pertama tidak memiliki Kitab Suci perjanjian baru dan segala sesuatu diterus sampaikan secara lisan sebagai tradisi.

Alkitab diberikan oleh Allah untuk Gereja Orthodox. Ini sesuai dengan Kitab Suci bahwa Gereja Orthodox telah menyetujui isi Alkitab. Gereja Orthodoxlah yang lama sebelum munculnya Protestanisme dengan penuh semangat melestarikan Kitab Suci dalam komunitas-komunitasnya.

Sedangkan orang-orang Protestan menggunakan Alkitab yang tidak mereka tulis, kumpulkan dan lestarikan itu, menolak Tradisi Suci dan dengan demikian menutup bagi diri mereka sendiri pengertian yang benar tentang Alkitab dan sering menciptakan tradisi-tradisi manusianya sendiri yang tidak mempunyai kaitan dengan rasul-rasul ataupun Roh Kudus, dan sesuai dengan kata-kata rasul: mereka ditawan ,”oleh filsafatnya yang kosong dan palsu menurut tradisi turun temurun.” (Kol 2:8), demikian tulis Rasul Paulus

Sakramen-sakramen

Orang-orang Protestan telah menolak keimaman dan sakramen-sakramen, tidak percaya bahwa melalui sakramen-sakramen Allah boleh berkarya. Apa yang mereka pelihara hanyalah namanya saja sebab orang-orang Protestan percaya bahwa ini hanyalah lambang dan pengingat akan peristiwa yang lampau dan bukan suatu realita suci. Sebagai ganti uskup-uskup dan imam-imam mereka menjadi gembala-gembala tanpa mempunyai kaitan dengan rasul-rasul, tidak ada suksesi rahmat sebagaimana dalam Gereja Orthodox dimana setiap uskup dan imam menerima berkat Allah yang dapat diiacak balik dari masa kita kepada Tuhan Yesus sendiri.

Gembala Protestan hanyalah seorang pengkhotbah dan pengatur kehidupan komunitas. Menurut St. Ignatius Brianchaninov.” Luther ..... menolak dengan semangat otoritas tidak sah dari paus-paus, menolak otoritas sah juga. Dengan menolak mahkota, menolak pentahbisan itu sendiri, walaupun keduanya (otoritas dan pentahbisan) didirikan oleh rasul-rasul. Menolak sakramen pengakuan dosa walaupun seluruh Kitab Suci memberikan kesaksian bahwa adalah mustahil menerima pengampunan dosa tanpa mengakui dosa-dosa. Orang-orang Protestan menolak sakramen-sakramen yang lainnya juga.

Penghormatan Orang-orang Kudus dan Theotokos

Karena memberikan kelahiran kepada Tuhan Yesus Kristus, Perawan Maria dihormati oleh umat manusia sebagaimana dinubuatkan: “mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebutku berbahagia.” (Luk 1:48). Inilah yang dikatakan tentang pengikut Kristus yang benar, orang-orang Kristen Orthodox. Sungguh sejak dulu sampai sekarang semua orang Kristen Orthodox menghormati Bunda Allah yang suci, Perawan Maria. Sementara orang-orang Protestan melanggar Kitab Suci tidak mau menghormatinya dan memperkenankannya.

Perawan Maria seperti semua orang-orang kudus yaitu orang-orang yang menyelesaikan sampai akhir jalan keselamatan yang dibukakan oleh Kristus, dipersatukan dengan Allah dan tinggal dalam persekutuan denganNya. Perawan Maria dan segenap orang-orang kudus menjadi teman paling dekat dan paling dikasihi Allah. Bahkan seseorang jika temannya memintanya sesuatu tentu saja akan berusaha untuk memenuhinya. Demikianlah juga Allah dengan sukacita mendengarkan dengan cepat memenuhi permohonan orang-orang kudusNya. Diketahui bahwa selama hidupnya di dunia ketika mereka memintaNya, Dia tentu menanggapinya. Misalnya atas permohonan Perawan Maria Dia menolong mempelai yang miskin dan melakukan sebuah mujizat pada pesta itu agar mereka tidak dipermalukan. (Yoh 2:1-11).

Kitab Suci mengatakan bahwa Allah,”bukanlah Allah dari orang yang mati tetapi Allah dari orang yang hidup. Sebab dihadapan Dia semua orang hidup.” (Luk 20:38). Oleh karena itu, setelah kematian orang-orang tidak lenyap sepenuhnya tetapi jiwa mereka yang hidup itu disimpan oleh Allah dan mereka yang kudus tetap mungkin berhubungan dengan Dia. (Wahyu 6:9-10). Dan Kitab Suci secara langsung mengatakan bahwa orang-orang kudus sungguh memohon kepada Allah dan Dia mendengarkan mereka.

Oleh karena itu orang-orang Kristen Orthodox menghormati Perawan Maria dan orang-orang kudus lainnya dan menyampaikan permohonan kepada mereka supaya mereka memohonkannya dihadapan Allah bagi kita.

Pengalaman menunjukkan bahwa mereka yang meminta pengantaraan doa menerima kesembuhan, pelepasan dari kematian dan pertolongan-pertolongan yang lain. Misalnya pada tahun 1395 panglima besar Mongol Tamarlane pergi ke Moscow. Bangsa Rusia tidak memiliki cukup kekuatan untuk melawan pasukan tentara itu. Penduduk Moscow yang Orthodox mulai sepenuh hati memohon kepada Perawan Maria agar dia berdoa kepada Allah untuk menyelamatkan mereka dari kemalangan besar. Demikianlah kemudian, pada pagi hari Tamarlane tiba-tiba memerintahkan perwira-perwira tingginya agar tentara mereka berbalik kembali. Ketika ditanya tentang alasannya, dia menjawab bahwa malam hari dia bermimpi melihat sebuah gunung yang besar yang di puncaknya terdapat seorang wanita bersinar yang memerintahkan dia meninggalkan negeri Rusia. Dan walaupun Tamarlane bukan seorang Kristen Orthodox, karena hormatnya akan kesucian dan kuasa rohani dia mematuhi Perawan Maria dan tidak mulai menguasai Moscow dan kota-kota lain.

Jika seseorang memandang teman-temanmu dengan baik, maka dia memandangnya dalam terang perkenanan. Dan dia yang tidak menghormati teman-teman kita dan yang secara sadar merendahkan mereka, tetapi pada saat yang sama meyampaikan permohonannya kepada kita, maka dia tidak akan memperoleh kesediaan kita untuk menolong. Sayangnya, orang-orang Protestan tidak mengerti hal ini dan memutuskan untuk menyangkal penghormatan dan doa-doa kepada teman-teman terkasih Allah – Perawan Maria dan Orang-orang Kudus.

Doa-doa untuk orang yang meninggal

Orang-orang Kristen Orthodox yang selama hidup mereka tidak dapat menaklukkan dosa dan tidak menjadi orang-orang kudus tidak sirna setelah kematian, tetapi mereka memerlukan doa-doa kita. Oleh karena itu, Gereja Orthodox berdoa bagi orang yang sudah meninggal mempercayai bahwa oleh doa-doa ini Tuhan memberikan istirahat tenang setelah kematian kepada banyak teman-teman dan kerabat-kerabat kita yang sudah meninggal.

Akan tetapi, orang-orang Protestan tidak ingin mengakui ini dan menolak untuk berdoa bagi orang yang sudah meninggal.

Puasa

Tuhan Yesus Kristus berbicara tentang pengikut-pengikutNya berkata,”waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktunya mereka akan berpuasa.” (Mark 2:25).

Untuk saat pertama Tuhan Yesus Kristus diambil dari murid-muridnya pada hari Rabu ketika Yudas mengkhianati Dia dan orang-orang jahat menangkap Dia agar membawaNya ke pengadilan, dan untuk saat kedua pada hari Jumat ketika para pelanggar hukum menyalibkan Dia. Oleh karena itu, untuk penggenapan sabdaNya, orang-orang Kristen Orthodox dari sejak zaman mula-mula telah memelihara puasa setiap hari Rabu dan Jumat demi Tuhan berpantang dari makanan yang kandungannya berasal dari binatang – daging, susu, telur, dan juga dari berbagai hiburan.

Tuhan Yesus Kristus berpuasa empat puluh hari dan malam (Mat 4:2) memberikan suatu teladan kepada murid-muridNya (Yoh 13:15). Dan rasul-rasul sebagaimana dikatakan dalam Alkitab : “beribadah kepada Tuhan dan berpuasa.” (Kis 13:2). Oleh karena itu, selain dari puasa-puasa satu hari, orang-orang Kristen Orthodox mempunyai puasa-puasa yang panjang, satu diantaranya adalah Puasa Catur Dasa dalam masa Pra Paskah.

Ikon- ikon Kudus

Dia yang mau menyembah Allah yang benar tidak akan bersamaan menyembah ilah-ilah palsu, yang diciptakan baik oleh manusia ataupun roh-roh yang telah terpisah dari Allah dan menjadi jahat. Roh-roh jahat ini sering menampakkan diri dihadapan manusia untuk mengacaukan mereka dan menghalangi mereka menyembah Allah yang benar dan membuat manusia menyembah mereka.

Oleh karena itu Allah telah memerintahkan “jangan ada padamu ilah lain dihadapanKu,” menambahkan,”Jangan membuat bagimu patung. ........... jangan sujud menyembah kepadanya aku beribadah kepadaNya sebab aku Tuhan Allahmu ...... “ (Kel 20:3-5). Oleh karena itu, orang-orang Kristen Orthodox percaya bahwa seseorang tidak boleh membuat gambar-gambar ilah-ilah palsu dan menyembah mereka.

Akan tetapi, ketika Tuhan memerintahkan membangun Bait Suci Dia pada zaman purba itu telah memerintahkan membuat gambar kerubim didalamnya. (Kel 25:18-22) Roh-roh yang baik yang setia kepada Allah dan menjadi malaikat-malaikat. Oleh karena itu, dari sejak pertama kali orang-orang Kristen Orthodox telah membuat gambar-gambar orang-orang kudus yang dipersatukan dengan Tuhan. Didalam katakombe bawah tanah dimana pada kedua dan ketiga orang-orang Kristen dianiaya oleh para penyembah berhala, berkumpul untuk berdoa dan liturgi (merayakan ibadah kudus) mereka menggambarkan Perawan Maria, rasul-rasul, kisah-kisah Injil.

Gambar-gambar ini bertahan sampai kepada zaman kita. Demikianlah, gedung-gedung Gereja Orthodox modern mempunyai gambar-gambar kudus yang sama, yaitu ikon-ikon. Dengan melihat kepada gambar-gambar itu siapapun dapat lebih mudah mati dengan jiwanya kepada Sang gambar yang asli, memusatkan pikiran dengan permohonan doa kepadanya. Allah sering mengirimkan pertolongan dan kesembuhan kepada orang-orang khususnya, ketika pembebasan secara ajaib dari pasukan Tamarlane terjadi pada tahun 1395. Orang-orang Kristen Orthodox berdoa di depan satu ikon yaitu ikon Theotokos.

Tetapi orang-orang Protestan oleh keyakinan yang salah telah menolak penghormatan kepada ikon-ikon kudus tidak memahami perbedaan antara ikon-ikon itu dan berhala-berhala. Ini berasal dari pengertian yang salah tentang Alkitab sebagaimana juga suasana rohani mereka yang tidak sesuai, sebab dia yang gagal mengerti perbedaan-perbedaan pokok antara gambar orang kudus dan roh jahat. Hanyalah mungkin dia yang sudah memahami perbedaan antara roh-roh jahat dan roh-roh baik.

Perbedaan-perbedaan yang lain

Orang-orang Protestan percaya bahwa jika seseorang mengikut Yesus Kristus sebagai Allah dan juruselamat, maka ia diselamatkan dan menjadi kudus tidak ada perbuatan-perbuatan khusus diperlukan untuk ini. Tetapi orang-orang Kristen Orthodox percaya mengikuti rasul Yakobus, bahwa iman : “Jika iman itu tidak disertai perbuatan maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” (Yak 2:17). Dan Yesus Kristus sendiri mengatakan,”Tidak setiap orang yang berkata kepadaKu,Tuhan, Tuhan, akan masuk ke dalam kerajaan surga, tetapi dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di surga.”(Mat 7:21). Ini berarti bahwa menurut orang-orang Kristen Orthodox seseorang harus memenuhi perintah permohonan yang mengungkapkan kehendak Bapa dan demikianlah menunjukkan iman mereka dengan perbuatan .

Dengan cara menggenapi perintah-perintah mereka tumbuh kuat dalam kebaikan dan keserupaan dengan Allah.

Orang-orang Kristen Protestan juga tidak mempunyai kerahiban ataupun biara sementara Orthodox keduanya mempunyai rahib-rahib dengan penuh semangat untuk memenuhi segala perintah-perintah Kristus. Di samping itu, mereka mengambil tiga kaul tambahan demi Allah : Kaul Kemurnian, Kaul Kemiskinan dan Kaul Ketaatan kepada seorang Bapa Rohani. Dalam hal ini mereka mengikuti Rasul Paulus yang tidak menikah, tidak memiliki apapun dan sepenuhnya taat kepada Tuhan. Jalan kerahiban dianggap lebih tinggi dan lebih mulia daripada jalan orang awam yang menikah, tetapi seorang awam dapat juga mengerjakan keselamatanNya. Diantara rasul-rasul Kristus terdapat orang-orang menikah, yaitu Rasul Petrus dan Rasul Filipus.

Ketika St. Nikholas dari Jepang pada akhir abad 19 ditanya mengapa orang-orang Kristen Orthodox di Jepang hanya punya dua misionaris senantiasa orang-orang Protestan mempunyai enam rahib dan tetapi lebih banyak orang Jepang yang memeluk Orthodoxi daripada Protestanisme dia menjawab,”Masalahnya bukan pada orang-orang melainkan pada ajaran-ajaran. Jika seorang Jepang sebelum menerima kekristenan mempelajari dan membandingkan secara menyeluruh dalam misi Katolik dia menemukan Katolikisme dalam misi Protestan. Dan menemukan Protestanisme dan dengan kita ajaran kita sejauh yang aku tahu sebelum menerima Orthodoxi. Apa gerangan yang dimaksud ? Masalahnya adalah bahwa ajaran / doktrin Gereja Orthodox dipelihara murni dan utuh, kita tidak menambahkan sesuatu kepadanya seperti orang-orang Katolik ataupun mengurangi apapun darinya seperti orang-orang Protestan.” (Buku Harian, 15.01.1897). Memang menurut St. Theofan Sang Petapa, orang Kristen Orthodox diyakinkan dalam kebenaran yang teguh,”Apa yang telah dinyatakan dan diperintahkan oleh Allah tidak boleh ditambahi atau dikurangi. Ini terkait kepada orang Katolik dan Protestan. Dengan tetap menambah dan mengurangi orang-orang Katolik mengelabui tradisi rasuliah dan Protestan berkomitmen untuk membuat situasi menjdi lebih baik tetapi malah membuatnya lebih buruk. Orang-orang Katolik mempunyai satu paus dan diantara orang-orang Protestan : lain aliran Protestan, lain pausnya.” (Surat-surat VI,946,974).

Oleh karena itu, semua orang yang tertarik pada pemukiman yang benar di zaman purba dan bukan pemukimannya sendiri, dan pada akhirnya menemukan jalan kepada Gereja Orthodox sering tanpa upaya dari orang-orang Kristen Orthodox Allah sendiri memimpin orang-orang macam itu kepada kebenaran. Sebagai contohnya kita memberikan dua kisah yang terjadi baru-baru ini dan mereka ikut serta ambil bagian didalamnya serta saksi-saksi yang masih hidup.

Kasus di Amerika Serikat

Pada tahun 1960-an di negara bagian California Amerika, di kota Ben Lomand dan Santa Barbara, suatu kelompok besar pemuda-pemuda Protestan sampai kepada kesimpulan bahwa semua gereja-gereja Protestan yang mereka kenal tidak mungkin adalah gereja yang benar, sebab mereka menganggap bahwa setelah rasul-rasul Kristus gereja telah lenyap dan disalibkan kembali pada abad ke-16 oleh Luther dan pemimpin-pemimpin Protestan lainnya. Dan kemudian orang-orang muda ini mulai mempelajari buku-buku sejarah yang ditulis oleh orang-orang Kristen pada zaman perdana dari abad pertama sampai abad kedua kemudian abad ketiga dan seterusnya, melacak sejarah yang berkesinambungan dari gerja yang didirikan Kristus dan rasul-rasulNya. Dan akhirnya, berkat penyelidikan bertahun-tahun mereka, orang-orang muda Amerika ini yakin bahwa Gereja Orthodox adalah Gereja sejati yang mereka cari. Walaupun tidak ada satu gereja Orthodox pun yang berhubungan dengan mereka atau mengilhami mereka, tetapi sejarah sendiri menjadi saksi bagi mereka. Dan ketika mereka menetapkan hubungan dengan Gereja Orthodox pada tahun 19754 mereka semua lebih dari dua ribu orang memeluk Orthodoxi.

Kasus di Benin

Kisah yang lain terjadi di Afrika Barat di Benin pada abad ini. Tidak ada orang-orang Kristen Orthodox. Mayoritas adalah penyembah berhala, beberapa beragama Islam, beberapa adalah Katolik atau Protestan. Seorang bernama Optat Bekhanzin pada tahun 1969 sedang berdaika – puteranya yang berumur lima tahun Eric sakit parah dan lumpuh. Bekhanzin membawa putranya ke rumah sakit tetapi dokter-dokter berkata bahwa anak itu tidak dapat disembuhkan. Kemudian ayah yang berduka itu pergi ke “Gereja “ Protestan setempat, mulai menghadiri pertemuan-pertemua doa berharap Allah akan menyembuhkan putranya. Tetapi doa-doa ini tak berbuahkan hasil. Setelah itu Optat mengumpulkan di rumahnya beberapa teman dekatnya dan meminta mereka untuk bersama-sama berdoa kepada Tuhan Yesus Kristus untuk kesembuhan Eric. Setelah doa ini suatu hari mujizat terjadi anak itu sembuh. Peristiwa ini mengkondisikan komunitas kecil mereka. Selanjutnya kesembuhan-kesembuhan ajaib terjadi oleh doa-doa mereka kepada Allah dan oleh sebab itu banyak orang termasuk orang-orang Katolik, Protestan bergabung dengan mereka.

Pada tahun 1975 komunitas ini memutuskan untuk membentuk sebuah gereja mandiri da orang-orang percaya itu memutuskan untuk berdoa dan berpuasa ketat untuk mengetahui kehendak Allah. Dan pada momen itu Eric Bekhanzin yang telah berumur 11 tahun, menerima wahyu : bagi pertanyaan bagaimana mereka harus menamai komunitas gereja mereka, Allah menjawab “Gereja disebut Gereja Orthodox.” Itu sangat mengejutkan bagi orang-orang Benin. Dan mereka belum pernah mendengar keberadaan sebuah gereja semacam itu. Dan bahkan mereka tidak mengetahui kata “Orthodox”. Akan tetapi, mereka menyebut komunitas mereka,”Gereja Orthodox Benin” dan hanya baru dua belas tahun kemudian mereka berkenalan dengan orang-orang Kristen Orthodox. Kemudian setelah mereka tahu tentang Gereja Orthodox yang sejati yang sejak zaman mula-mula telah disebut demikian dan berasal dari rasul-rasul. Maka 2500 orang-orang seluruhnya bersama-sama menerima Orthodoxi. Demikianlah, Tuhan menanggapi permohonan semua orang yang sungguh mencari jalan kekudusan kepada GerejaNya dan menumbuhkannya.

Diterjemahkan oleh: Fr Moses Kristianto

ruРусский
azАзербайджанский
sqАлбанский
enАнглийский
arАрабский
hyАрмянский
afАфрикаанс
bgБолгарский
cyВаллийский
huВенгерский
viВьетнамский
elГреческий
kaГрузинский
daДатский
heИврит
id
esИспанский
isИсландский
gaИрландский
itИтальянский
kkКазахский
kiКикуйю
zhКитайский
koКорейский
kuКурдский
kyКыргызский
lvЛатышский
ltЛитовский
mkМакедонский
msМалайский
mtМальтийский
mnМонгольский
deНемецкий
nlНидерландский
noНорвежский
plПольский
ptПортугальский
roРумынский
cebСебуано
srСербский
skСловацкий
swСуахили
tlТагальский язык
tgТаджикский
thТайский
tyvТувинский
trТурецкий
urУрду
uzУзбекский
faФарси
fiФинский
frФранцузский
hiХинди
hrХорватский
csЧешский
svШведский
etЭстонский
jaЯпонский



© Russian Orthodox Mission Society of st. Serapion Kozheozersky
write us